Page 206 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 206
Satria hanya dapat menunggu sepatah kata untuk
memulai langkahnya. Tatapannya penuh harap pada
perempuan yang telah mengandungnya selama sembilan
bulan tersebut.
Monah mengusap air mata dengan telapak tangannya.
Dia menatap lekat kepada buah cintanya.
"Akan pergi ke mana kamu, Nak?" tanya Monah.
Matanya menerawang. Kenangan masa lalu itu belum
dapat dia lupakan. Menapak di lereng perbukitan bersama
sang kekasih, Kirno. Lelaki yang telah membawa pergi
hatinya.
"Aku akan mencari Bapak ke kota, Mak. Siapa tahu Bapak
bisa mencarikan pekerjaan untukku," kata Satria.
"Kamu yakin bisa bertemu bapakmu? Tak usahlah, Nak.
Bapak sudah melupakan kita," lanjut Monah.
"Tapi, Mak. Bulan lalu bapak masih memberikan kabar
dan menanyakan tentang sekolahku," sambung Satria.
"Jangan pergi, Nak. Belum sekali pun kamu menginjakkan
kaki ke belantara yang ramai dengan roda‐roda," kata Monah.
Dia teringat saat yang sama Kirno tega meningalkannya.
"Tapi, Mak, sekali ini saja. Izinkan aku berangkat," pinta
Satria penuh harap.
Dia melangkah mendekati Monah. Butiran kecil berwarna
merah dari pohon kersen luruh, jatuh satu per satu dan
terhempas ke tanah.
Buliran bening menganak sungai di pipi Monah yang
kusam. Dadanya naik turun. Kenangan masa lalu membuat
hatinya semakin terluka. Batinnya semakin tersiksa.
194 | 80 Cerpenis MediaGuru

