Page 45 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 45
ramah kepadaku. Rambut ikal sebahunya terurai lepas. Kaca
mata hitam bertengger manis di kepalanya. Sebuah tas yang
senada dengan gaun dan sepatu yang dikenakan
mempercantik penampilannya.
“Perkenalkan, saya Siska, Mamanya Cinta, Cinta
Mahardika. Saya datang untuk menjemput Cinta dan
mengajaknya tinggal bersama saya,” lembut suaranya
selembut tangannya yang menjabat tanganku.
Aku cukup terkejut dengan apa yang diucapkan Bu Siska.
Setahuku Bunda Cinta adalah Bu Maya, wanita bersahaja,
yang mengantar jemput Cinta dan Alisa, serta mengantarkan
bekal makan siang mereka setiap harinya.
Kuajak tamuku ke ruang bimbingan dan penyuluhan (BP).
Ketika kami sedang berbincang, tiba‐tiba Bu Maya datang
mengetuk pintu.
“Aku mau bertemu anakku! Aku mau ajak Cinta tinggal
bersamaku, May!” Bu Siska membuka pembicaraan ketika
melihat kedatangan Bu Maya.
“Akhirnya kamu bebas, Sis!” kata Bu Maya dengan suara
bergetar dan air mata yang menganak sungai.
Bu Siska yang duduk di hadapanku, dengan cepat berdiri
dan bersimpuh di kaki Bu Maya. Semakin meledaklah tangis
Bu Maya. Bahunya berguncang menahan haru biru perasaan
yang mungkin sebentar lagi akan diletupkan. Tangan kirinya
menggenggam erat tangan kananku.
“Aku ingin memeluk anakku, May. Aku ingin Cinta tahu
bahwa aku adalah ibu kandungnya,” tutur Bu Siska sembari
sesenggukan, “empat belas tahun yang lalu, kau datang
dalam kehidupan kami. Kau layangkan fitnah keji hingga
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 33

