Page 49 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 49
“Bu, ayo makan buburnya. Buka mulutnya, jangan diemut
kayak bayi. Cepat, Bu.” Tanganku sedikit kasar mendorong
sendok ke mulut ibu.
Ibu hanya diam dengan tatapan meminta belas kasih.
“Mana anak‐anak kebanggaan ibu. Mereka semua sibuk
dengan urusannya,“ kukatakan hal itu pada ibu, “Bu, obatnya
diminum, jangan dibuang ya. Gimana mau sembuh!”
Kutaruh semua butir‐butir obat di mulut ibu. Ibu muntah
sehingga mengotori pakaian dan seprai yang terpasang.
“Bisanya hanya menyusahkan. Capek, aku capek, Bu!“
Suaraku berteriak sangat kencang.
Ibu mengeluarkan suara yang tidak jelas dengan mata
melotot disertai titik‐titik air yang jatuh di sela‐sela pipinya.
Arin, anak sulungku, menghampiri karena kaget mendengar
teriakanku. Melihat neneknya tersenggal, ditenangkan tubuh
ringkih perempuan yang sangat disayanginya dalam hening.
“Sabar, ya, Nek, Arin akan bantu mengganti pakaian
Nenek. Maafkan Bunda yang bertingkah aneh,“ ucap putri
sulungku dengan bijak.
***
Istana ini bagai neraka yang siap membakarku. Badanku
terasa panas berada di dalamnya. “Dik, ibu sudah dituntun
salatnya atau belum?“ Bang Yusuf bertanya padaku sampai
tiga kali, tapi aku pura‐pura tidur.
“Aku capek, Bang, capek! Aku minta perawat, tapi mana?
Tanganku hanya dua. Pekerjaanku banyak, bukan hanya
ngurus orang sakit. Jangan menyusahkan istrimu, Abangku
Sayang! “ ucapanku meradang.
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 37

