Page 53 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 53
ancang ingin melanjutkan perkelahian, tiba‐tiba suara keras
memekik dan memecahkan telinga.
“Bubar, bubar! Pak Parno datang. Pak Parno datang.
Wey, bubar, bubar!” Kami pun bubar ambyar tak karuan.
Sementara Pak Parno sudah mulai mendekat ke arena
pertarungan aku dan Gondo.
Sejak pertempuran Baratayhuda antara aku dan Gondo,
tampak di hati Gondo benih‐benih persaingan untuk
mendapatkan Sehati. Akhirnya, aku mengetahui dari pembisik
dan tim suksesku bahwa diam‐diam Gondo menyukai Sehati.
Ah, aku tidak akan lemah dan kalah. Aku akan berjuang
sampai titik darah penghabisan untuk mendapatkan Sehati.
“Merdekaaa,” tekadku dalam hati.
“Hei, teman‐teman, tumben banget nih, hari ini tidak
melihat Sehati?” kataku keheranan.
Banjo temanku berkata, ”Tadi saat kulewat rumah Sehati,
banyak orang berkerumun, Jon.” Aku mendekati Banjo dan
menarik kerah bajunya.
“Apa lu kata, Jo? Ada apa dengan Sehati, dia nggak kena
covid‐19 kan?” Aku naik pitam mendengar ucapan Banjo.
Melihat raut mukaku seperti harimau lapar yang ingin
menerkam Banjo. Dia begitu takut dan hanya mampu
menggeleng‐geleng menandakan tidak tahu. Sejurus
kemudian kulepaskan genggamanku dan kurapikan kerah
baju Banjo.
“Memangnya kenapa kalau Sehati kena covid‐19?
Emangnya lu, Jon. Mau ngobatin apa!” Suara lantang
menggelegar itu, terasa sangat kukenal dan falsnya itu
membuat telingaku nyaris budeg. Aku membalikkan tubuhku
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 41

