Page 26 - bk metamorfosis
P. 26

Jelasnya, tujuan kooperatif menciptakan norma-norma yang pro-akademik
            di antara para siswa, dan norma-norma pro-akademik memiliki pengaruh yang
            amat penting bagi pencapaian siswa. Interaksi diantara siswa dalam tugas-tugas
            pembelajaran akan terjadi dengan sendirinya untuk mengembangkan pencapaian
            prestasi siswa (Slavin, 1995:38).
                 Belajar kooperatif merupakan suatu model pengajaran yang jangkauannya
            melampaui (tidak hanya) membantu siswa belajar isi akademik dan keterampilan
            semata, namun juga melatih siswa tujuan-tujuan hubungan sosial dan manusia
            (Arends, 1997:26). Menurut Slavin, dalam belajar kooperatif siswa akan lebih
            mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sukar apabila mereka
            dapat saling mendiskusikan masalah-masalah tersebut dengan temannya. Lebih
            lanjut, Slavin (1995:39), mengemukakan bahwa dalam belajar kooperatif siswa
            bekerja sama dalam kelompok kecil saling membantu mempelajari suatu materi.
            Pendapat serupa diungkapkan Thomson (1995:123), mengatakan bahwa di dalam
            belajar kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang
            terdiri dari empat atau lima siswa dengan kemampuan heterogen (kemampuan
            tinggi,  sedang, dan rendah), berbeda jenis kelamin,  dan suku/ras serta saling
            membantu  satu sama lain. Dengan demikian,  belajar  kooperatif akan melatih
            siswa menerima  perbedaan pendapat  dan  saling  membantu  untuk  melakukan
            aktivitas tertentu dalam menyelesaikan masalah atau tugas yang dihadapinya.
                 Berdasarkan uraian di atas, di dalam pembelajaran kooperatif kelas disusun
            atas kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Setiap kelompok biasanya terdiri
            dari empat atau lima siswa dengan kemampuan berbeda, yaitu tinggi, sedang, dan
            rendah. Selain itu, jika memungkinkan dalam pembentukan kelompok hendaknya
            diperhatikan pula perbedaan suku, budaya, etnis, dan jenis kelamin.
                 Menurut Lundgren,  Arends dan Ibrahim, ciri-ciri  atau karakteristik  dari
            belajar  kooperatif adalah: (1) kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki
            kemampuan tinggi, sedang, dan rendah, (2) jika memungkinkan, setiap anggota
            kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda, (3) siswa
            belajar dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya,
            dan (4) penghargaan lebih berorientasi kelompok dari pada individu (Tahmir,
            2007:19).
                 Berdasarkan ciri-ciri belajar kooperatif di atas, dapat dikemukakan bahwa
            dengan belajar kooperatif memberikan kesempatan siswa dengan berbagai latar
            belakang kemampuan dan kondisi sosial untuk bekerja sama, saling tergantung
            dan belajar  saling  menghargai  satu dengan  yang lainnya.  Hal ini  akan  lebih
            mudah dicapai jika menggunakan pendekatan realistik.


                 d. Karakteristik  Model  Resik
                 Salah satu ciri utama dari pembelajaran matematika dengan menggunakan
            model resik adalah menggunakan masalah kontekstual yang diangkat sebagai



        18                                                                  METAMORFOSIS
                                                               Pengembangan Sekolah Model di Bali
   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31