Page 23 - bk metamorfosis
P. 23
di bawah ini menunjukkan perbedaan keempat pendekatan itu.
Tabel 2.1 Perbedaaan Pendekatan dalam Pembelajaran Matematika
Pendekatan Horizontal Vertikal
Mekanistik - -
Empiristik + -
Strukturalistik _ +
Realistik + +
(Streefland , 1991: 32)
Keterangan: Tanda ( – ) berarti tidak memuat komponen tersebut.
Matematisasi horizontal menunjuk pada proses transformasi masalah yang
dinyatakan dalam bahasa sehari-hari ke dalam bahasa matematika, sedangkan
matematisasi vertikal adalah proses dalam matematika itu sendiri yaitu lebih
menekankan struktur dalam matematika (Gravemeijer, 1994:11). Pendekatan
strukturalistik lebih menekankan struktur dalam suatu cabang matematika,
yaitu mempelajari matematika dalam arah vertikal yang lebih cenderung
memperlihatkan sifat abstrak dari matematika. Pendekatan realistik selain
mempelajari dalam arah vertikal juga mempelajari dalam arah horizontal, yaitu
hubungan antara konsep-konsep dalam beberapa cabang matematika, seperti
misalnya geometri, aljabar linier, kalkulus, dan statistik.
Dilihat dari sudut pendidikan, langkah-langkah memahami suatu masalah
melalui translasi timbal balik dari bentuk-bentuk representasi enaktif, ikonik
dan simbolik dapat dipandang sebagai bagian dari matematisasi horizontal.
Pembuktian dalam matematika merupakan bagian dari matematisasi vertikal.
Pendekatan mekanistik tidak memuat kedua komponen matematisasi itu,
sedangkan pendekatan empiristik hanya memuat komponen horizontal saja.
Karakteristik lain pendekatan matematika realistik ialah landasan filosofis yang
mendasarinya yaitu: matematika adalah kegiatan/aktivitas manusia, dan belajar
matematika merupakan proses belajar melalui “penemuan kembali”. Dengan
perkataan lain, landasan filosofis matematika dekat dengan filsafat kontruktivisme
yang menyebutkan bahwa pengetahuan itu adalah konstruksi dari seseorang yang
sedang belajar (Suparno, 1997: 14). Ini berarti, pendekatan matematika realistik
lebih menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada siswa, di mana siswa
harus aktif, tidak boleh pasif. Siswa harus aktif mengkonstruksi pengetahuan
matematika itu dan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator. Artinya siswa
harus didorong dan diberi keleluasaan untuk mengekspresikan jalan pikirannya,
menyelesaikan masalah menurut idenya, mengkomunikasikan, dan belajar dari
ide teman-temanya.
Gravemeijer (1994:21), menyebutkan bahwa yang mendasari pendekatan
matematika realistik ialah kegunaan matematika itu sebagai alat (aspek aplikasi)
METAMORFOSIS 15
Pengembangan Sekolah Model di Bali

