Page 24 - bk metamorfosis
P. 24
dalam menyelesaikan masalah-masalah yang kontekstual merupakan alasan
masyarakat untuk mempelajari matematika. Kalau realistik berkaitan dengan
aplikasi, Freudenthal (Gravemeijer, 1994:21), mengatakan bahwa pendidikan
matematika untuk anak berkaitan dengan semua realitas dalam kehidupan sehari-
hari. Dengan demikian pendekatan matematika realistik menekankan bahwa
aspek aplikasi sangat penting. Jadi pendekatan matematika realistik bertolak
dari masalah-masalah kontekstual, dari sana siswa “membahasamatematikakan”
masalah tersebut, kemudian menyelesaikan secara matematis.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, pada dasarnya pembelajaran
matematika dengan menggunakan pendekatan matematika realistik dicirikan
oleh: (1) matematika dipandang sebagai kegiatan manusia sehari-hari, sehingga
memecahkan masalah-masalah sehari-hari (contextual problem) merupakan
bagian yang esensial, (2) belajar matematika berarti bekerja dengan matematika
(doing mathematic), (3) siswa diberi kesempatan untuk menemukan konsep-
konsep matematika di bawah bimbingan guru, (4) proses pembelajaran
berlangsung secara interaktif, dan siswa menjadi fokus dari semua aktivitas
di kelas. Kondisi ini mengubah autoritas guru yang semula sebagai validator
(pemberi jawaban yang benar) menjadi seorang pembimbing. Guru harus melatih
autoritas ini dengan cara memilih kegiatan-kegiatan instruksional yang akan
dilaksanakan dan membimbing pelaksanaan diskusi, dan menyeleksi kontribusi-
kontribusi yang diberikan siswa (untuk dibahas secara klasikal), dan (5) aktivitas
yang dilakukan meliputi; menemukan masalah-masalah kontekstual (looking for
problem), memecahkan masalah (solving problems), dan mengorganisir bahan
ajar (organizing a subject matter). Bahan ajar yang diorganisir adalah realitas-
realitas yang harus diorganisir secara matematis, serta konsep-konsep matematika
yang harus diorganisir; menurut ide-ide baru, untuk dimengerti lebih baik, dalam
konteks yang lebih luas, melalui pendekatan aksiomatik.
Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan matematika
realistik dimulai dari masalah kontekstual. Dengan menggunakan aktivitas
matematisasi horizontal siswa mencapai model matematika informal atau formal.
Dengan implementasi vertikal seperti pemecahan masalah secara individu
atau kelompok, membandingkan pemecahan dan diskusi, sehingga diperoleh
pemecahan masalah. Selanjutnya siswa menginterpretasikan pemecahan dan
strategi yang digunakan ke masalah kontekstual yang lain. Akhirnya siswa
menggunakan pengetahuan matematika untuk sampai pada pengetahuan
matematika formal.
c. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang
mengupayakan seorang siswa mampu mengajarkan kepada peserta lain. Mengajar
teman sebaya memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari sesuatu
16 METAMORFOSIS
Pengembangan Sekolah Model di Bali

