Page 147 - BUKU PERDEBATAN PASAL 33 DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945
P. 147

Susanto Polamolo
            Elnino M. Husein Mohi
            PERDEBATAN PASAL 33
            DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945

                  demi kata, untuk kemudian menginterpretasikan
                  secara lebih luas dengan melihat terutama realita-
                  realita global dan ekonomi nasional yang selama ini
                  sudah dilalui oleh bangsa kita.
                        Karena  berhubungan  dengan  nafas  dan
                  tujuan atau jiwa dari UUD 1945 yang ditampung di
                  dalam Pembukaan maka pertanyaan juga muncul
                  yang saya belum tuliskan dalam notulis ini apakah
                  memang Pancasila itu sudah mencukupi Pak, bahwa
                  mengatakan barangkali bisa menjadi  dasasila  atau
                  lebih dari  saptasila, yang jelas pemikiran apakah
                  UUD 1945 Pembukaan itu sudah menampung
                  tujuan-tujuan atau jiwa dan warna yang kita berikan
                  kepada kehidupan  berbangsa terutama di bidang
                  ekonomi? Dan, dalam hal ini secara eksplisit Pak
                  Dawam mengatakan sumber daya alam, pengelolaan
                  sumber daya alam secara eksplisit belum recognized
                  dalam UUD 1945 yang barangkali juga perlu untuk
                  dipertimbangkan.
                        Pendekatan yang kedua ini, dengan demikian
                  mengacu  bahwa dari Pasal-Pasal atau kata-kata
                  yang ada di Pembukaan kita bisa menurunkan
                  ayat-ayat atau Pasal-Pasal di bidang ekonomi yang
                  sesuai dengan realita hari ini tetapi tetap memiliki
                  tujuan sesuai dengan semangat yang ada di dalam
                  Pembukaan.
                        Bagian ketiga, di mana Pak Didik Rachbini
                  maupun  mungkin  Pak Syahrir mengatakan  bahwa
                  kita melihat atau Bu Adinigsih jadi saya tidak melihat
                  ada kelompok Jogja atau Jakarta sebetulnya karena
                  Bu  Adiningsih  sebetulnya  lebih  kosmopolitan,



                                       86
   142   143   144   145   146   147   148   149   150   151   152