Page 163 - BUKU NATIONAL INTEREST DAN AGENDA PEMBANGUNAN EDISI KE-2
P. 163
KIPRAH TAHUN KEDUA WAKIL KETUA DPR/KORINBANG DR. (H.C.) RACHMAT GOBEL
Selanjutnya, mengenai harga gas ke pabrik pupuk, secara umum rata-rata
US$ 6 per MMBTU, namun biaya yang dikeluarkan jauh lebih tinggi karena
toll fee yang cukup tinggi.
Pendistribusian pupuk bersubsidi banyak yang tidak tepat sasaran, perlu
adanya evaluasi serta kajian secara mendalam. Sebagai salah satu alternatif,
program subsidi pupuk dialihkan menjadi subsidi langsung kepada keluarga
petani (KK-Tani).
Banyak sekali kasus penyalahgunaan pupuk bersubsidi yang terjadi di
hampir seluruh daerah seperti penggunaan diluar peruntukan, dipasarkan
sebagai pupuk nonsubsidi. Ada celah dalam pengawasan distribusi karena
tanggung jawab produsen hanya sampai ke level 3, sementara di level 4 dari
pengecer ke petani itu diatur oleh Kementan dan Kemendag yang kiosnya
berada di level kabupaten, kecamatan, desa.
Mendapat Apresiasi
Inisiatif Rachmat Gobel menyelenggarakan rapat konsultasi mendapat
sambutan antusias dari instansi terkait dan Komisi DPR RI. Mendapat
apresiasi yang tinggi, karena dalam sejarah persoalan pupuk belum pernah
dilakukan rapat konsultasi seperti yang diinisiasi Rachmat Gobel ini.
Karena bersifat konsultasi, rapat ini memang tidak untuk merumuskan satu
kebijakan.
Namun demikian, rapat ini telah menghasilkan pemahaman yang sama
bahwa distribusi pupuk bersubsidi banyak yang menyimpang, perlu evaluasi
serta kajian secara mendalam. Pertanyaan yang harus dijawab adalah
apakah kebijakan pupuk subsidi perlu dilanjutkan atau dicarikan alternatif
lain agar pemberian subsidi ini tepat sasaran. Sebagai salah satu alternatif,
subsidi pupuk dialihkan menjadi subsidi langsung kepada keluarga petani
(KK-Tani).
Rapat juga menyepakati, perlu langkah pembenahan secara holistik, baik
permasalahan dari hulu hingga hilir. Hasil pembahasan ini harus menjadi
perhatian pemerintah khususnya dalam hal pelaksanaan pendistribusian
agar pupuk selalu tersedia setiap saat, tepat sasaran dan sesuai dengan data
yang disampaikan oleh Menteri Pertanian.
Rachmat Gobel mengakui, masalah pupuk subsidi ini sangat kompleks
sehingga butuh waktu untuk menyelesaikan dan mendapatkan solusi
yang efektif. Namun belajar dari pengalaman negara lain, katanya, perlu
dicarikan solusi agar petani tidak perlu tergantung pada pupuk subsidi.
Alternatif itu, menurutnya adalah mendorong petani menggunakan pupuk
nonsubsidi. Alasannya, penggunaan pupuk jenis ini memberikan keuntungan
145

