Page 200 - Kondisi dan Perubahan Agraria di Ngandagan
P. 200
Kondisi dan Perubahan Agraria Desa Ngandagan ...
lebih jauh dijelaskannya bahwa dalam strategi nafkah di
pedesaan, nampak sekali terjadi gender inequalities. Perem-
puan misalnya, tidak memiliki hak dan akses yang sama
terhadap lahan, sumber-sumber daya produksi dan tidak
memiliki posisi tawar dalam mengambil keputusan
berkaitan dengan hal-hal yang produktif, berbeda dengan
laki-laki. Penempatan perempuan sebagai pencari nafkah
tambahan/pembantu suami pada akhirnya seringkali
menempatkan pekerjaan optimal yang dilakukan
perempuan. Bahkan jika dia adalah pencari nafkah utama
sekalipun dalam keluarga, tidak serta merta akan
menempatkan posisinya sejajar dengan laki-laki dalam
pandangan keluarga atau masyarakat.
Kendati seorang laki-laki dan perempuan sama-
sama miskin, kemiskinan itu disebabkan oleh alasan yang
berbeda, pengalaman yang berbeda serta kemampuan
yang berbeda pula dalam menghadapinya. Kemiskinan
memiliki dimensi yang sangat bias gender karena adanya
ketimpangan gender dan akses kekuasaan. “Gender-based
power relation mean that women are more vulnerable to chronic
poverty because of gender inequality in the distribution of in-
come, acces to productive inputs, such as credit, command over
property or control over earned income as well as gender biased
in labour markets”, sebagaimana dikatakan Cagatay. 15
15 N. Cagatay, Gender and Poverty, United Nations Develop-
ment Programs, 1998.
179

