Page 118 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 118

BAGIAN  II   97
                                                           Penganggaran

            1.1.  Pengertian dan Kedudukan Penganggaran dalam Siklus
                 Keuangan Negara
                Dalam disiplin manajemen keuangan publik, penganggaran
            menempati posisi sentral sebagai jembatan antara perencanaan
            pembangunan dan realisasi fiskal. Secara konseptual, penganggaran
            merupakan proses sistemik dan strategis yang mencerminkan
            komitmen negara dalam mengalokasikan sumber daya secara terukur
            untuk mencapai sasaran pembangunan nasional. Ia bukan sekadar
            aktivitas administratif untuk menyusun dokumen keuangan tahunan,
            melainkan instrumen kebijakan yang mencerminkan prioritas negara,
            arah kebijakan  fiskal, dan orientasi pembangunan  nasional dalam
            kerangka waktu tertentu.

                Secara yuridis, kedudukan penganggaran dalam siklus keuangan
            negara  ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003
            tentang Keuangan Negara, yang menempatkan Anggaran Pendapatan
            dan Belanja Negara (APBN) sebagai instrumen utama kebijakan fiskal
            untuk mengatur pendapatan dan belanja negara secara tahunan.  Pasal
            3 ayat (1) UU ini menyatakan bahwa pengelolaan keuangan negara
            dilaksanakan secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan,
            efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan
            memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Dalam konteks itu,
            penganggaran  menjadi salah satu  siklus vital dalam  pengelolaan
            keuangan negara, yang mencakup  perencanaan, pelaksanaan,
            pengawasan, dan pertanggungjawaban.

                Lebih lanjut, Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2023 tentang
            Penyusunan  Rencana Kerja dan Anggaran mempertegas bahwa
            penganggaran bukanlah  kegiatan yang  berdiri sendiri, melainkan
            bagian integral dari sistem perencanaan nasional. Dalam Pasal 1 PP
            tersebut, penganggaran dimaknai sebagai serangkaian kegiatan yang
            menghasilkan  dokumen  Rencana  Kerja  dan  Anggaran  (RKA),  baik
            untuk kementerian/lembaga (RKA-K/L), Otorita Ibu Kota Nusantara,
            maupun Bendahara Umum Negara (RKA-BUN). RKA ini kemudian
            menjadi dasar  dalam penyusunan DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan
            Anggaran),   yang   merupakan    dokumen   otorisasi   pelaksanaan
   113   114   115   116   117   118   119   120   121   122   123