Page 123 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 123

102    MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
                   Ilustrasi Pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional

                Prinsip money follow program diperkenalkan secara formal dalam
            kerangka hukum  melalui Peraturan Pemerintah Nomor  17 Tahun
            2017 tentang Sinkronisasi Proses Perencanaan  dan Penganggaran
            Pembangunan Nasional. Dalam Pasal 3, ditegaskan bahwa penyusunan
            perencanaan  dan  penganggaran  pembangunan  nasional dilakukan
            dengan pendekatan penganggaran berbasis program melalui prinsip
            money follow program. Prinsip ini mengarahkan agar alokasi anggaran
            difokuskan pada program yang menjadi prioritas nasional, memiliki
            dampak nyata terhadap masyarakat, dan dapat  diukur kinerjanya
            secara objektif.  Dalam praktiknya, ini berarti bahwa penyusunan
            anggaran harus dimulai dari identifikasi program strategis terlebih
            dahulu, bukan dari pembagian plafon berdasarkan unit organisasi.
            Konsekuensinya, kementerian/lembaga dituntut  untuk menyusun
            program yang relevan dengan arah kebijakan pemerintah, bukan
            sekadar mengulangi pola belanja tahun-tahun sebelumnya.
                Selaras  dengan prinsip tersebut, pemerintah juga  mengadopsi
            pendekatan penganggaran berbasis kinerja (performance-based
            budgeting), yang secara eksplisit diatur dalam berbagai peraturan
            teknis, khususnya dalam  Peraturan  Menteri Keuangan Nomor 62
            Tahun 2023 tentang Perencanaan Anggaran, Pelaksanaan Anggaran
            serta Akuntansi dan Pelaporan Keuangan, dan perubahannya dalam
            PMK  Nomor 107 Tahun  2024. Dalam regulasi  ini, penganggaran
            berbasis kinerja ditujukan untuk memastikan bahwa setiap rupiah
            yang dibelanjakan negara harus terikat pada indikator output dan
            outcome yang telah dirumuskan secara kuantitatif. Dengan demikian,
            keberhasilan penggunaan anggaran tidak lagi diukur dari serapan
            anggaran semata, tetapi dari capaian hasil dan dampaknya terhadap
            tujuan strategis pembangunan.
                Secara lebih teknokratik, pendekatan  performance-based
            budgeting  menuntut  pemaknaan  ulang  terhadap  nomenklatur
            anggaran.  Dokumen  RKA-K/L  harus mampu  menggambarkan
            struktur program, kegiatan, keluaran (output), komponen rincian
            output (KRO), serta rincian output (RO) dengan akurasi dan justifikasi
            yang kuat. Setiap elemen tersebut harus dikaitkan dengan indikator
   118   119   120   121   122   123   124   125   126   127   128