Page 141 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 141

120    MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
                   Ilustrasi Pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional

            alokasi adalah hasil final dari seluruh proses rekonsiliasi fiskal yang
            mengikat secara hukum.

                Setelah pagu alokasi ditetapkan,  K/L wajib  menyesuaikan
            kembali RKA-K/L mereka berdasarkan rincian alokasi tersebut.
            Proses penyusunan RKA final inilah yang kemudian menjadi dasar
            penerbitan DIPA. DIPA merupakan dokumen otorisasi pelaksanaan
            anggaran yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan disampaikan
            kepada K/L dan satuan kerja paling lambat pada awal tahun anggaran
            berjalan. DIPA berisi rincian alokasi anggaran per kegiatan dan akun
            belanja, lengkap dengan target kinerja dan indikator capaian yang
            telah disepakati. DIPA menjadi dasar formal dalam penggunaan dana
            APBN serta pengukuran kinerja anggaran sepanjang tahun anggaran.
                Berbeda  dari RKA-K/L yang  disusun oleh masing-masing
            kementerian/lembaga, penyusunan RKA-BUN dilakukan langsung
            oleh Kementerian Keuangan. RKA-BUN mencakup jenis belanja yang
            tidak dialokasikan kepada K/L tertentu, seperti pembayaran bunga
            utang, subsidi energi, dana alokasi khusus, dan pengeluaran fiskal
            makro lainnya. Penyusunan RKA-BUN didasarkan pada parameter
            ekonomi makro, tren realisasi anggaran, serta proyeksi kebutuhan
            belanja nasional yang bersifat  strategis  dan lintas sektoral.  RKA-
            BUN disusun dengan prinsip kehati-hatian fiskal, konsistensi dengan
            kebijakan  fiskal  jangka  menengah,  serta  akuntabilitas  penggunaan
            dana publik.

                Seluruh  proses  penyusunan  RKA,  baik  K/L  maupun  BUN,
            tidak dapat dilepaskan dari perangkat evaluasi dan analisis kinerja
            yang menjadi fondasi utama sistem penganggaran berbasis  hasil.
            Indikator kinerja digunakan untuk memastikan bahwa setiap rupiah
            yang dialokasikan  menghasilkan output yang terukur. Evaluasi
            kinerja digunakan sebagai alat koreksi terhadap pola penganggaran
            sebelumnya, agar alokasi anggaran tidak bersifat repetitif dan tidak
            produktif. Sementara itu, standar biaya digunakan untuk mengontrol
            efisiensi  dan  efektivitas  penggunaan  dana,  agar  tidak  terjadi
            pemborosan atau inefisiensi fiskal.
   136   137   138   139   140   141   142   143   144   145   146