Page 197 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 197

176    MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
                   Ilustrasi Pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional

                Secara  substantif,  belanja  berkualitas  berakar  pada  lima
            prinsip normatif yang saling terkait: efisiensi, efektivitas, prioritas,
            transparansi, dan akuntabilitas.  Pertama, prinsip  efisiensi
            mengandaikan bahwa setiap alokasi anggaran harus dikelola dengan
            sehemat mungkin untuk  mencapai  hasil maksimal. Standar Biaya
            Masukan (SBM), Standar Biaya Keluaran (SBK), dan Standar Struktur
            Biaya (SSB) sebagaimana diatur dalam PMK 62/2023 menjadi
            instrumen teknokratis dalam menakar kewajaran biaya dan mencegah
            pemborosan fiskal. Kedua, prinsip efektivitas mensyaratkan adanya
            kesinambungan antara keluaran (output) yang dirancang dalam RKA-
            K/L dengan capaian hasil (outcome) dan sasaran program nasional.
            Logika anggaran berbasis kinerja ini bertumpu pada kerangka berpikir
            logis (logical framework) yang memastikan hubungan kausal antara
            input, proses, output, dan outcome.
                Ketiga, prinsip prioritas mensyaratkan bahwa alokasi anggaran
            dilakukan secara selektif dan strategis, mengacu pada arah kebijakan
            nasional, tema Rencana  Kerja Pemerintah (RKP), dan program
            prioritas nasional sebagaimana dirumuskan oleh Kementerian PPN/
            Bappenas. Mekanisme  integrasi antara sistem perencanaan dan
            penganggaran, seperti melalui platform KRISNA dan SAKTI, bertujuan
            menghindari mismatch  antara rencana  dan realisasi anggaran.
            Keempat, prinsip  transparansi  direfleksikan dalam penyediaan
            informasi  anggaran yang terbuka bagi publik  dan pemangku
            kepentingan  lainnya.  Keterbukaan  ini  tidak  hanya  menjadi  bagian
            dari akuntabilitas  demokratis, tetapi juga instrumen pengendalian
            sosial  terhadap  potensi  penyimpangan  anggaran.  Terakhir,  prinsip
            akuntabilitas  mengharuskan bahwa setiap  pengeluaran  negara
            dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, administratif, dan
            kinerja. RKA yang disusun harus menjelaskan justifikasi anggaran,
            logika intervensi program, serta indikator kinerja yang terukur.

                Implementasi prinsip belanja berkualitas menjadi semakin
            signifikan dalam konteks keterbatasan fiskal dan meningkatnya
            ekspektasi  publik  terhadap  pelayanan  negara.  Dalam  hal  ini,
            value  for  money  menjadi  parameter  fundamental:  setiap  rupiah
   192   193   194   195   196   197   198   199   200   201   202