Page 192 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 192

BAGIAN  II   171
                                                           Penganggaran

            kewenangan  revisi antara Kementerian/Lembaga (PA), Direktorat
            Jenderal Anggaran (DJA), dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan
            (DJPb). Pada tema tertentu seperti hibah luar negeri, pinjaman, atau
            pengeluaran  pembiayaan dari SBSN, kewenangan  revisi cenderung
            berada pada DJA atau DJPb karena melibatkan implikasi fiskal lintas
            sektor dan memerlukan verifikasi yang lebih mendalam.
                Kerangka tematik revisi ini memungkinkan sistem penganggaran
            negara beroperasi secara adaptif namun tetap terkontrol, karena setiap
            revisi harus  melewati tahapan telaahan,  verifikasi  dokumen, dan
            kesesuaian dengan arah kebijakan fiskal. Dengan adanya klasifikasi
            tematik ini, K/L dapat  merujuk dengan lebih presisi terhadap
            ketentuan yang  relevan, dan  otoritas fiskal memiliki kerangka
            untuk memastikan bahwa perubahan anggaran tidak bertentangan
            dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, efektivitas, dan efisiensi
            sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Keuangan Negara.

                Dengan demikian, tema revisi anggaran berfungsi  sebagai
            kerangka kerja substantif dalam mengelola dinamika APBN,
            memastikan bahwa setiap perubahan yang dilakukan tetap dalam orbit
            regulatif, dan selaras dengan fungsi APBN sebagai alat perencanaan,
            pengendalian, dan evaluasi kebijakan pemerintah pusat.

            5.5.  Akuntabilitas, Evaluasi Kinerja, dan Transparansi Revisi
                 Anggaran
                Dalam tata kelola keuangan negara yang modern, revisi anggaran
            tidak hanya dipandang sebagai instrumen teknis untuk menyesuaikan
            alokasi  fiskal,  melainkan  juga  sebagai  bagian  dari  siklus  kebijakan
            publik yang harus tunduk pada prinsip akuntabilitas, evaluasi
            kinerja, dan transparansi. Ketiganya merupakan pilar normatif yang
            memastikan bahwa setiap perubahan dalam struktur anggaran negara
            tidak mereduksi kualitas pengeluaran publik, serta tetap dalam
            kerangka  konstitusional  pengelolaan  Anggaran  Pendapatan  dan
            Belanja Negara (APBN).

                Akuntabilitas revisi anggaran secara eksplisit tertanam dalam
            logika  pengelolaan   fiskal    berbasis   kinerja   (performance-based
   187   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197