Page 188 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 188

BAGIAN  II   167
                                                           Penganggaran

            kepastian  hukum, efisiensi prosedural,  dan pengendalian internal.
            Dalam praktiknya, setiap jenis revisi juga memiliki konsekuensi
            prosedural berbeda, baik dalam hal dokumen pendukung, kewenangan
            persetujuan, hingga batasan waktu pengajuan. Pengetahuan dan
            pemahaman yang memadai terhadap distingsi ini menjadi penting,
            tidak  hanya  bagi  pengelola  keuangan  di  tingkat  satuan  kerja,
            tetapi juga bagi auditor dan pemangku kepentingan lainnya dalam
            mengevaluasi kepatuhan dan performa anggaran. Maka, klasifikasi
            jenis revisi anggaran bukan hanya merupakan instrumen teknokratis,
            tetapi juga refleksi dari sistem fiskal yang adaptif dan berorientasi
            pada akuntabilitas berkelanjutan.

            5.3.  Kewenangan Revisi Anggaran
                Dalam kerangka tata kelola fiskal nasional, kewenangan dalam
            proses revisi anggaran menjadi determinan penting dalam menjaga
            keseimbangan antara fleksibilitas  operasional  dan disiplin fiskal.
            PMK Nomor 62 Tahun 2023 jo. PMK Nomor 107 Tahun 2024 secara
            eksplisit mengatur pembagian otoritas penetapan revisi anggaran agar
            tetap selaras dengan prinsip check and balance, tanpa mengabaikan
            kebutuhan teknokratik di tingkat Kementerian/Lembaga (K/L). Hal
            ini tercermin dalam Pasal 124 yang menegaskan bahwa revisi anggaran
            ditetapkan baik oleh Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna
            Anggaran  (PA)  maupun  oleh Menteri Keuangan, bergantung  pada
            sifat dan implikasi revisi terhadap DIPA.
                Secara umum, kewenangan Menteri/Pimpinan Lembaga selaku
            PA terbatas pada dua kategori. Pertama, perubahan RKA yang tidak
            menyebabkan  perubahan  DIPA—misalnya  perubahan  Petunjuk
            Operasional  Kegiatan  (POK)—dapat  langsung  ditetapkan  oleh
            PA tanpa perlu pengesahan oleh Kementerian Keuangan.  Kedua,
            dalam hal terjadi revisi anggaran yang mempengaruhi DIPA, namun
            substansinya termasuk  dalam kategori tertentu sebagaimana
            ditentukan dalam regulasi, maka PA tetap dapat menetapkan revisi
            tersebut  asalkan  memperoleh  pengesahan  dari  Menteri  Keuangan.
            Dengan    demikian,   terdapat    mekanisme   dualistik:    otonomi
   183   184   185   186   187   188   189   190   191   192   193