Page 50 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 50

"Yang  aku  pikirin  waktu  handphone-ku  rusak  itu  cuma  orang

          kantor dan kamu,"  ucapnya tiba-tiba, menatapku dalam.

               Ia mengaku takut aku akan berpikir yang tidak-tidak, karena
          baginya,  aku  adalah  prioritas  utama.  Keluhannya  berlanjut

          tentang akhir pekan yang tersita oleh pekerjaan, padahal ia sangat
          berambisi membawaku ke PIK (Pantai Indah Kapuk).

          "Minggu depan kan masih ada waktu,"    sahutku pelan.

          "Bener ya? Janji ya?"  matanya berbinar penuh harap.
          Diam-diam, aku pun menantikan momen itu. Sudah lama aku tidak

          menghirup udara PIK. Terakhir kali adalah Agustus silam, saat aku

          bersama Kak Zahid melakukan survei kost di Jakarta Timur lalu
          berakhir menikmati senja di La Riviera, PIK 2.

          Makanan  pun  tiba.  Aroma  gurih  menyeruak,  dan  Farras

          memintaku mencicipinya dengan sedikit paksaan. "Cobain, enak
          banget. Nggak usah pakai nasi,"  bujuknya.

               Akhirnya,  aku  menyerah  dan  menyantap  potongan  katsu

          teriyaki  itu.  Sambil  mengunyah,  aku  memperhatikannya.  Ia
          tampak sangat rapi dan berwibawa dalam balutan kemeja hitam

          dan  celana  abu-abu,  setelan  kantor  yang  selalu  berhasil

          membuatnya  terlihat  berkali-kali  lipat  lebih  tampan.  Sangat
          kontras denganku. Malam itu, aku hanya mengenakan daster putih

          bermotif  bunga  yang  kubalut  dengan  kardigan  berwarna  fanta


                                                                          50
   45   46   47   48   49   50   51   52   53   54   55