Page 53 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 53

Aku  menolak  karena  memang  tak  bisa,  tapi  ia  terus

          memaksa dengan ego yang meluap. Rasa kesalku mulai mencapai

          ubun-ubun. Di bawah lampu temaram dan kepulan uap minuman,
          ia mengajariku langkah demi langkah. Saat aku mulai mengerti, ia

          bergumam rendah, "Ternyata kamu pintar ya."
               Kalimat itu terdengar seperti pujian yang merendahkan. Ia

          mulai memotretku, lalu melontarkan pertanyaan yang tak masuk

          akal: "Kamu mandi nggak sih?"
               Aku  hanya  bisa  membatin,  persetan. Pria  ini  gila.  Ia

          mendekatiku tapi seolah tak henti mengejek. Ia membawaku ke

          dalam situasi yang tidak kusukai, bahkan dengan lancang melepas
          jepit  rambut  yang  sangat  kusukai.  "Coba  dilepas  aja," katanya

          enteng, tanpa peduli pada kenyamananku. Aku mencoba meredam

          amarahku
          "Kenapa kamu selalu menemuiku tiap pagi dan malam? Apa nggak

          capek?"  tanyaku, mencoba mencari logika di balik kegilaan ini.

          "Capek lah, tapi kalo nggak dipaksa gini, nggak bakal bisa. Kamu
          kira aku mau membuang waktu dan uangku tanpa ada tujuan?" ,

          jawabnya.

               Ia kemudian mulai membanggakan kemapanan kariernya. Di
          usianya  yang  mendekati  kepala  tiga,  ia  hanya  butuh  seseorang





                                                                          53
   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58