Page 54 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 54
agar tidak sendirian. Ketika kutanya apa kriterianya, ia menatapku
dan berkata, "Yang ada aja."
Duniaku serasa runtuh mendengarnya. Seolah-olah aku
hanyalah opsi terakhir yang tak memiliki nilai. Untuk menguji
batas kewarasan bicaranya, aku bertanya, "Jika perempuan itu
.
sudah tidak perawan, apa kamu tetap mau?" Jawabannya datar
namun tegas, "Janda pun nggak apa-apa, asal belum punya anak."
Suasana semakin keruh saat ia membuka laptopku. Dengan
jemari yang lancang, ia menelusuri data pribadiku; alamat, CV di
Jobstreet, hingga mencari letak rumahku di Cirebon melalui satelit
Google. Aku merasa privasiku ditelanjangi. Rasa tidak nyaman itu
memuncak hingga aku memutuskan untuk berdiri dan pergi.
Namun, ia menahanku. Cengkeramannya di tanganku menguat,
sebuah paksaan fisik yang membuatku semakin muak. Terpaksa,
aku duduk kembali dalam kecanggungan yang meradang.
Malam itu, obrolan kami tenggelam dalam dimensi yang
semakin gelap dan asing. Sekitar pukul sembilan malam lewat
sedikit, ia akhirnya mengajakku pulang. Menyisakan rasa sesak
dan tanda tanya besar tentang pria yang kini ada di hadapanku.
54

