Page 60 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 60

Sebuah  pesan  singkat  dari  Mamah  masuk  ke  ponselku,

          mengabarkan bahwa Om Eka kemungkinan baru akan berangkat

          dari  Cirebon  selepas  salat  Jumat.  Dalam  benakku,  aku  mulai
          menghitung waktu. Jika jalanan bersahabat, mungkin sekitar jam

          lima sore beliau sudah akan sampai di depan gerbang kosku.
               Di  sela  penantian,  Farras  menghubungiku.  Seperti  ritme

          yang sudah-sudah, ia berniat mampir sepulang kerja. Namun, kali

          ini aku terpaksa menolak dengan halus. "Besok saja ya, hari ini

          Omku  mau  datang," kataku.  Senang  rasanya  ada  alasan  untuk
          menolak  ajakan  bertemu  dengannya.  Farras  kemudian  berujar

          bahwa  ia  punya  sebuah  kado  kecil  untukku.  Aku  sempat
          termenung,  mencoba  menebak-nebak  di  balik  layar  ponsel.

          Mungkinkah  itu  sebuah  jam  tangan,  seperti  yang  pernah  Uda

          berikan padaku dulu?
               Sore harinya, harapanku seolah dipatahkan oleh langit yang

          tiba-tiba  berubah  kelabu.  Hujan  turun  dengan  begitu  derasnya,

          membungkus  Jakarta  dalam  dingin  yang  mencekam.  Seketika
          hatiku  mencelos,  memikirkan  Om  Eka  yang  sedang  menembus

          jalanan. "Semoga hujan ini hanya turun di sini,"  bisikku dalam hati,

          meski aku tahu itu mustahil.
               Waktu  merangkak  lambat  hingga  mendekati  waktu  Isya,

          barulah sebuah notifikasi pesan masuk. Itu dari Om Eka, beliau


                                                                          60
   55   56   57   58   59   60   61   62   63   64   65