Page 62 - THE SERENDIPITY OF FIRST SIGHT BY GAMALIA15
P. 62
tenang, padahal aku tahu itu cukup jauh apalagi dalam kondisi
hujan yang belum sepenuhnya reda.
Om Eka juga memberitahuku bahwa ban tersebut memang
sudah tidak layak dan harus segera diganti, sebuah detail yang
juga sudah beliau sampaikan kepada Bapak. Sambil beristirahat
sejenak, Om Eka bercerita tentang perdebatan kecil di rumah
sebelum berangkat. Awalnya, motor ini hendak dikirim melalui
jasa kereta api, namun biayanya dirasa terlalu mahal. Bapak pun
sempat berniat mengantarkannya sendiri, tetapi jadwal meeting
di hari Jumat tak bisa ditinggalkan. Akhirnya, Om Eka dengan
sukarela menawarkan diri untuk mengantarnya bersama Nabilah,
sekalian ingin berkunjung ke rumah orang tuanya di Bekasi.
Pertemuan singkat itu harus diakhiri karena waktu semakin
larut. Saat beliau hendak pulang, aku segera memesankan layanan
Gocar dan memastikan biayanya sudah terbayar lunas. Om Eka
sempat merasa sungkan dan tidak enak hati, apalagi setelah
menyadari bahwa uang yang beliau keluarkan selama di
perjalanan ternyata jauh lebih besar daripada ongkos kirim kereta
yang semula dihindari.
Setelah mereka berlalu, aku berdiri di depan sepeda motor
yang kini sudah terparkir manis di area kos. Ada rasa hangat yang
menjalar di dada. Kini, Jakarta terasa sedikit lebih kecil bagi
62

