Page 186 - A Man Called Ove
P. 186
Fredrik Backman
belajar dalam pengertian konvensional, tapi dia memahami
angka dan dia memahami rumah. Itu sangat membantunya.
Dia mengikuti ujian setelah enam bulan. Lalu ujian
lain. Dan ujian lain. Lalu dia mendapat pekerjaan di kantor
perumahan dan tetap bekerja di sana selama lebih dari
sepertiga abad. Bekerja keras, tidak pernah sakit, membayar
cicilan, membayar pajak, melaksanakan tugasnya. Membeli
rumah bandar kecil berlantai dua di kompleks perumahan
baru di hutan. Perempuan itu ingin menikah, jadi Ove
melamarnya. Perempuan itu ingin punya anak dan Ove
mengatakan tidak keberatan. Dan mereka paham bahwa
anak-anak harus tinggal di kompleks rumah bandar bersama
anak-anak lainnya.
Dan kurang dari empat puluh tahun kemudian, tidak ada
lagi hutan di sekitar rumah itu. Yang ada hanyalah rumah-
rumah lain. Lalu, suatu hari, perempuan itu terbaring di
rumah sakit memegangi tangan Ove dan memintanya untuk
tidak khawatir. Semuanya akan baik-baik saja.
Mudah baginya untuk berkata begitu, pikir Ove dengan
jantung berdenyut-denyut penuh kemarahan dan kepedihan.
Namun perempuan itu hanya berbisik, “Semuanya akan baik-
baik saja, Ove Sayang,” dan menyandarkan lengannya di
lengan Ove. Dengan lembut, dia menyorongkan telunjuk
ke telapak tangan Ove. Lalu dia memejamkan mata dan
meninggal.
Ove tetap berada di sana, menggenggam tangan
perempuan itu selama beberapa jam. Hingga staf rumah sakit
memasuki ruangan dengan suara hangat dan gerakan cermat,
menjelaskan bahwa mereka harus memindahkan jenazah
181