Page 190 - A Man Called Ove
P. 190
Fredrik Backman
Lelaki itu menyorongkan kembali kartu itu ke bawah
jendela. “Sekarang cobalah,” katanya.
Ove menganggap tua bangka tolol mana pun tahu, jika
kartu itu tidak berfungsi setengah menit lalu, maka kartu itu
tidak akan berfungsi juga sekarang. Ove mengemukakan hal
ini kepada lelaki di balik Plexiglas.
“Kumohon?” kata lelaki itu.
Ove mendesah terang-terangan. Mencoba kartu itu lagi
tanpa mengalihkan pandangan dari Plexiglas. Kartu itu
berfungsi.
“Benar, kan?” ejek lelaki di balik Plexiglas.
Ove memelototi kartu itu seakan merasa terkhianati, lalu
memasukkan kartu itu kembali ke dompet.
“Semoga harimu menyenangkan,” teriak lelaki di balik
Plexiglas di belakangnya.
“Lihat saja nanti,” gumam Ove.
Selama dua puluh tahun terakhir ini, nyaris setiap manusia
yang ditemui Ove belum melakukan sesuatu pun, kecuali
terus mengoceh agar Ove membayar segalanya dengan kartu.
Namun uang tunai selalu cukup baik bagi Ove; sesungguhnya
uang tunai telah melayani umat manusia dengan sempurna
selama ribuan tahun. Dan Ove tidak memercayai bank beserta
semua peralatan elektronik mereka.
Akan tetapi, istrinya tetap saja bersikeras untuk memiliki
salah satu kartu itu, walaupun Ove sudah memperingatkannya.
Dan ketika istrinya meninggal, bank hanya mengirim kartu
baru dengan nama Ove untuk menghubungkannya dengan
rekening istrinya. Dan kini, setelah membeli bunga untuk
185