Page 192 - A Man Called Ove
P. 192
Fredrik Backman
Mengingat pengalaman buruknya baru-baru ini, Ove
tidak menggunakan Saab, tapi berjalan kaki menuju stasiun.
Kali ini, perempuan asing hamil, ilalang pirang, istri Rune,
atau tali berkualitas rendah tidak akan mendapat peluang
untuk merusak paginya. Dia telah mengeluarkan angin dari
radiator milik orang-orang ini, meminjami mereka barang-
barang, memberi mereka tumpangan ke rumah sakit. Namun
kini akhirnya dia menempuh perjalanannya sendiri.
Ove memeriksa jadwal kereta api sekali lagi. Dia benci
terlambat. Itu merusak rencana. Mengacaukan segalanya.
Istrinya benar-benar payah dalam hal mematuhi rencana,
tapi perempuan memang selalu begitu. Ove tahu, mereka
tidak akan bisa mematuhi rencana sekalipun rencana itu
ditempelkan di tubuh mereka.
Ketika menyetir ke suatu tempat, Ove membuat jadwal
dan rencana dan memutuskan di mana mereka akan makan
dan kapan akan berhenti untuk minum kopi, semuanya demi
membuat perjalanan itu sebisa mungkin hemat waktu. Dia
mempelajari peta dan memperkirakan dengan tepat berapa
lama perjalanan itu, cara menghindari lalu lintas jam padat,
dan mengambil jalan pintas yang tidak akan bisa dipahami
oleh orang-orang dengan navigasi-satelit. Ove selalu punya
strategi perjalanan yang jelas.
Sebaliknya, istrinya selalu memunculkan kegilaan-
kegilaan semacam “pergi mengikuti perasaan” dan
“bersantai”. Seakan itulah cara orang dewasa tiba di suatu
tempat dalam hidupnya. Lalu, istrinya selalu ingat harus
menelepon atau lupa membawa syal atau lainnya. Atau dia
187