Page 209 - A Man Called Ove
P. 209

A Man Called Ove

            telah memprotes seluruh rencana pertemuan itu dengan gigih
            dan lantang, tapi dengan sia-sia.

                Ayah Sonja cenderung berpandangan negatif sejak awal.
            Yang diketahuinya mengenai bocah laki-laki ini adalah asalnya
            dari kota dan, menurut Sonja, tidak begitu menyukai kucing.
            Sejauh menyangkut kepentingannya, dua karakteristik ini
            memberinya cukup alasan untuk menganggap Ove tidak
            bisa diandalkan.
                Sementara, Ove sendiri merasa seakan sedang menghadapi
            wawancara kerja, padahal dia tidak pernah begitu pintar
            dalam hal semacam itu. Jadi ketika Sonja tidak bicara, dan
            sesungguhnya itulah yang terjadi hampir sepanjang waktu,
            muncul semacam keheningan yang hanya bisa terjadi di antara
            lelaki-yang-tidak-ingin-kehilangan-anak-perempuannya dan
            lelaki-yang-belum-paham-sepenuhnya-dirinya-telah-dipilih-
            untuk-membawa-pergi-anak-perempuan-itu.

                Akhirnya, Sonja menendang tulang kering Ove, me-
            nyuruh nya bicara. Ove mendongak dari piring dan melihat
            kedutan-kedutan marah di sudut mata Sonja. Dia berdeham
            dan memandang ke sekeliling dengan semacam keputusasaan,
            mencari sesuatu yang bisa ditanyakan kepada lelaki tua
            itu. Inilah yang telah dipelajari Ove: jika seseorang tidak
            punya sesuatu untuk dikatakan, dia harus mencari sesuatu
            untuk ditanyakan. Jika ada satu hal yang membuat orang
            lupa membenci orang lain, itu adalah ketika mereka diberi
            kesempatan untuk bicara mengenai diri mereka sendiri.
                Akhirnya, pandangan Ove jatuh pada truk yang terlihat
            dari jendela dapur lelaki tua itu.



                                       204
   204   205   206   207   208   209   210   211   212   213   214