Page 204 - A Man Called Ove
P. 204
Fredrik Backman
Terkadang, terutama selama beberapa tahun pertama,
beberapa teman perempuan Sonja mempertanyakan pilihan
yang diambilnya. Sonja sangat cantik, dan orang-orang di
sekelilingnya seakan merasa ini hal yang sangat penting untuk
disampaikan kepadanya. Sonja juga suka tertawa dan, apa
pun yang terjadi dalam hidupnya, dia adalah jenis orang
yang berpandangan positif. Namun Ove, yah, Ove adalah
Ove. Dan orang-orang di sekeliling Sonja juga terus-menerus
menyampaikan hal itu kepadanya.
Ove telah menjadi lelaki tua pemberang sejak di sekolah
menengah, kata mereka bersikeras. Sonja bisa saja memilih
seseorang yang jauh lebih baik.
Namun bagi Sonja Ove tidak pernah masam, kikuk, dan
keras kepala. Baginya, Ove adalah buket bunga merah jambu
yang sedikit acak-acakan pada saat makan malam pertama
mereka. Ove adalah setelan cokelat milik ayahnya yang sedikit
terlalu ketat di bahu bidang muramnya. Ove sangat meyakini
beberapa hal: keadilan, kesetaraan, kerja keras, dan dunia yang
menganggap kebenaran adalah kebenaran. Bukan karena dia
ingin mendapat medali, diploma, atau tepukan di punggung,
tapi hanya karena memang begitulah seharusnya.
Sonja tahu, tidak banyak lagi jenis lelaki yang seperti
ini. Mungkin Ove tidak mengiriminya puisi, merayunya
dengan lagu, atau pulang dengan membawa hadiah mahal.
Namun tidak pernah ada bocah laki-laki lain yang menaiki
kereta api dengan tujuan keliru selama berjam-jam setiap
hari, hanya karena dia suka duduk di samping Sonja dan
mendengarkannya bicara.
199