Page 201 - A Man Called Ove
P. 201
A Man Called Ove
duduklah lelaki berkemeja putih. Ove harus melompat
minggir agar tidak tertabrak, ketika mobil itu berbelok cepat.
Lelaki itu mengangkat sebatang rokok menyala ke
arah Ove lewat jendela depan, lalu sedikit tersenyum
pongah. Seakan Ove-lah yang bersalah karena menghalangi
mobilnya, namun lelaki itu cukup berbaik hati untuk tidak
mempermasalahkannya.
“Idiot!” teriak Ove di belakang Skoda itu, tapi lelaki
berkemeja putih sama sekali tidak tampak bereaksi.
Ove menghafalkan pelat nomornya sebelum mobil itu
menghilang di belokan.
“Sebentar lagi giliranmu, dasar tua bangka,” desis sebuah
suara keji di belakang Ove.
Ove berbalik dengan kepalan tangan terangkat secara
naluriah, dan mendapati dirinya menatap pantulannya
sendiri di kacamata hitam si Ilalang Pirang. Perempuan itu
sedang menggendong anjing kampung keparat itu. Anjing
itu menggeram pada Ove.
“Mereka dari dinas sosial,” ejek si Ilalang sambil
mengangguk ke arah jalanan.
Di area parkir, Ove melihat si tolol Anders sedang
memundurkan Audi dari garasinya. Ove memperhatikan
mobil itu punya lampu depan baru berbentuk gelombang,
mungkin dirancang agar pada malam hari semua orang tahu
bahwa mobil ini dikemudikan oleh orang yang benar-benar
tak berguna.
“Apa itu urusanmu?” tanya Ove kepada Ilalang.
196