Page 213 - A Man Called Ove
P. 213
17
Lelaki Bernama Ove dan Kucing
Menjengkelkan di Dalam
Tumpukan Salju
“APA DIA MATI?” TANYA PARVANEH ketakutan, sambil berjalan
secepat yang dimungkinkan oleh perut hamilnya, lalu berdiri
di sana, menunduk menatap lubang itu.
“Aku bukan dokter hewan,” jawab Ove—bukan dengan
cara yang tidak ramah. Dia sekadar menyampaikan informasi.
Ove tidak mengerti dari mana perempuan ini muncul
terus-menerus sepanjang waktu. Tak bisa lagikah seorang
lelaki berdiri diam dan tenang di samping lubang berbentuk
kucing pada tumpukan salju di kebunnya sendiri?
“Kau harus mengeluarkannya!” teriak Parvaneh sambil
menampar bahu Ove dengan sarung tangan.
Ove tampak tidak senang dan memasukkan tangan lebih
jauh ke saku jaket. Dia masih mengalami sedikit kesulitan
bernapas.
“Sama sekali tidak perlu,” katanya.