Page 215 - A Man Called Ove
P. 215

A Man Called Ove

                Ove tidak pernah menghadapi perempuan yang lebih
            parah ketika menyangkut mendengarkan apa yang dikatakan
            orang beradab kepadanya. Dia merasa kehabisan napas lagi.
            Dia memerangi dorongan untuk mencengkeram dadanya.

                Parvaneh maju terus. Ove minggir. Parvaneh berjalan
            melewatinya.
                Buntalan kecil berhias tetesan air beku di gendongannya
            jelas mendatangkan aliran kenangan di kepala Ove, sebelum
            dia sempat menghentikannya; kenangan mengenai Ernest.
            Ernest tua tolol, yang sangat dicintai Sonja hingga kau bisa
            melambungkan koin lima krona di hati perempuan itu setiap
            kali dia melihat Ernest.

                “AYO, BUKA PINTUNYA!” teriak Parvaneh sambil
            menengok ke belakang, memandang Ove sebegitu cepatnya,
            hingga muncul bahaya lecutan rambut.
                Ove mengeluarkan kunci dari saku. Seakan orang lain
            telah menguasai lengannya. Dia kesulitan menerima apa yang
            sesungguhnya sedang dilakukannya. Sebagian dari dirinya
            berteriak “TIDAK” di dalam kepalanya, sedangkan seluruh
            tubuhnya disibukkan oleh semacam pemberontakan remaja.
                “Ambilkan aku selimut!” perintah Parvaneh sambil berlari
            melintasi ambang pintu dengan masih memakai sepatu.

                Ove berdiri di sana selama beberapa saat, memulihkan
            napas, sebelum berjalan mengejar perempuan itu.
                “Sialan dinginnya di sini. Naikkan suhu radiator!”
            Parvaneh melontarkan kata-kata itu, seakan ini adalah sesuatu
            yang sudah jelas. Dia memberi isyarat kepada Ove dengan
            tidak sabar sambil meletakkan si kucing di sofa.


                                       210
   210   211   212   213   214   215   216   217   218   219   220