Page 274 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 274

dengan beberapa teori dasar yang berhubungan dengan transportasi
                        berkelanjutan, perilaku mobilitas, dan inovasi teknologi.
                        a. Teori Sistem Transportasi Berkelanjutan
                            Menurut Banister (2008), sistem transportasi berkelanjutan adalah
                        sistem   yang    memenuhi      kebutuhan      mobilitas   masyarakat     tanpa
                        mengorbankan lingkungan dan kesejahteraan generasi mendatang.
                        Dalam konteks transportasi online, teori ini menjadi dasar untuk menilai
                        sejauh mana layanan seperti ojek dan mobil daring berkontribusi terhadap
                        keberlanjutan:
                            (1) Aspek Positif: transportasi online dapat mengurangi penggunaan
                                kendaraan pribadi jika diintegrasikan dengan moda publik,
                                mendukung efisiensi waktu dan energi.
                            (2) Aspek Negatif: namun, peningkatan jumlah perjalanan individu
                                (ride-hailing) justru dapat menambah total emisi karbon per kapita,
                                terutama jika armada masih menggunakan bahan bakar fosil.
                        Dengan demikian, teori transportasi berkelanjutan menjadi alat analisis
                        untuk mengevaluasi apakah sistem transportasi online dapat diarahkan
                        menuju mobilitas rendah karbon (low-carbon mobility).
                        b. Teori Mobilitas Berkelanjutan
                            Gudmundsson dan Hojer (1996), menekankan bahwa mobilitas
                        berkelanjutan harus mempertimbangkan efisiensi energi, keadilan sosial,
                        dan pengurangan dampak lingkungan.
                            Dalam konteks transportasi online:
                             (1) Platform digital berpotensi meningkatkan aksesibilitas masyarakat
                                terhadap transportasi, termasuk kelompok ekonomi menengah ke
                                bawah.
                             (2) Namun, efisiensi energi sering tidak tercapai karena pola mobilitas
                                individualistik setiap perjalanan hanya membawa satu penumpang,
                                bukan sistem berbagi (shared mobility).
                        Oleh karena itu, teori ini relevan untuk menilai efektivitas model bisnis
                        transportasi online dalam menciptakan mobilitas yang inklusif dan ramah
                        lingkungan.
                        c.  Teori Inovasi Teknologi
                            Rogers    (2003),   menjelaskan     bahwa     adopsi   inovasi   teknologi
                        dipengaruhi oleh lima faktor utama: keunggulan relatif, kompatibilitas,
                        kompleksitas, kemampuan diuji coba, dan keterlihatan hasil. Dalam kasus
                        transportasi online, teori ini menjelaskan tingkat penerimaan masyarakat
                        terhadap teknologi mobilitas digital, seperti:
                             (1) Pemesanan daring melalui aplikasi.
                             (2) Pembayaran digital tanpa uang tunai.
                             (3) Penggunaan algoritma untuk efisiensi rute.
                        Relevansinya terhadap keberlanjutan muncul ketika inovasi teknologi
                        diarahkan untuk efisiensi bahan bakar, optimalisasi rute hemat energi,
                        atau integrasi dengan kendaraan listrik (EV). Semakin cepat inovasi
                        ramah lingkungan diadopsi oleh perusahaan transportasi online, semakin
                        besar kontribusinya terhadap pengurangan emisi karbon.






                                                               8
   269   270   271   272   273   274   275   276   277   278   279