Page 273 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 273
setiap perjalanan sering kali dilakukan dengan kapasitas penumpang
rendah (single passenger).
Menurut studi Putri dan Nugroho (2022), meskipun transportasi online
mempermudah mobilitas, intensitas penggunaan yang tinggi dan frekuensi
perjalanan pendek justru memperbesar jejak karbon harian di wilayah
urban. Dengan kata lain, efisiensi ekonomi tidak selalu sejalan dengan
efisiensi lingkungan. Transformasi menuju mobilitas bersama (shared
mobility) seperti carpooling, microtransit, dan penggunaan transportasi
massal perlu digencarkan agar pola mobilitas masyarakat lebih ramah
lingkungan.
d) Kurangnya Integrasi Kebijakan Antarsektor
Tantangan kelembagaan juga menjadi penghambat besar dalam
penerapan sistem transportasi berkelanjutan di Indonesia. Koordinasi
lintas sektor antara Kementerian Perhubungan, Kementerian ESDM,
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta pemerintah
daerah masih belum optimal. Beberapa isu yang muncul aalah sebagai
beriku:
(1) Tumpang tindih kewenangan dalam pengaturan transportasi energi
bersih.
(2) Tidak sinkronnya kebijakan insentif kendaraan listrik antar
kementerian.
(3) Kurangnya mekanisme integrasi antara perencanaan transportasi
kota dan kebijakan mitigasi emisi nasional.
Menurut World Bank (2022), keberhasilan sistem transportasi
berkelanjutan sangat ditentukan oleh tata kelola lintas sektor yang kuat,
sinergi kebijakan fiskal energi lingkungan, serta keberpihakan pemerintah
terhadap investasi hijau.
e) Implikasi terhadap Kebijakan Transportasi Nasional
Keempat tantangan di atas menunjukkan bahwa keberlanjutan
transportasi di Indonesia tidak hanya tergantung pada ketersediaan
teknologi ramah lingkungan, tetapi juga pada reformasi kebijakan, perilaku
sosial, dan perencanaan perkotaan terpadu. Untuk mengatasinya,
dibutuhkan langkah strategis alaha sebagai berikut:
(1) Percepatan transisi kendaraan listrik, melalui subsidi pembelian,
kemudahan kredit, dan keringanan pajak.
(2) Perluasan sistem transportasi publik terintegrasi hingga ke
kawasan suburban dan daerah penyangga kota besar.
(3) Penerapan kebijakan berbasis data untuk pengawasan emisi dan
konsumsi energi sektor transportasi.
(4) Pendidikan dan kampanye publik guna membangun kesadaran
terhadap pentingnya mobilitas berkelanjutan.
2.1.5 Relevansi Teori terhadap Transportasi Online
Perkembangan transportasi online di Indonesia, seperti Gojek, Grab,
dan Maxim, merupakan fenomena penting dalam transformasi sistem
mobilitas perkotaan. Keberadaannya tidak hanya mengubah pola
mobilitas masyarakat, tetapi juga memunculkan tantangan baru terhadap
aspek keberlanjutan lingkungan, khususnya emisi karbon. Untuk
memahami fenomena ini secara komprehensif, perlu dikaji relevansinya
7

