Page 447 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 447

dan tinggi badan, karena tubuh dengan massa dan ukuran lebih besar membutuhkan

                  energi  lebih  banyak  untuk  mempertahankan  fungsi  dasar  tubuh  dalam  kondisi
                  istirahat. Pola ini memperkuat kesimpulan bahwa variasi antropometri antar atlet

                  menjadi  faktor  penting  dalam  menentukan  kebutuhan  energi  basal.  Perhitungan

                  BMR  menjadi  titik  awal  untuk  memastikan  pemain  futsal  remaja  mendapatkan
                  asupan energi  cukup guna menunjang performa, pemulihan, serta pertumbuhan.

                  Jika asupan energi lebih rendah dari kebutuhan, maka akan timbul kelelahan, risiko
                  cedera, dan gangguan pertumbuhan.


                  b.    Analisis Thermic Effect of Food (TEF)
                        Hasil  perhitungan  Thermic  Effect  of  Food  (TEF)  pada  atlet  futsal  remaja

                  dalam penelitian ini berada pada rentang 244–293 kkal/hari, dengan rata-rata sekitar

                  265 kkal/hari. atlet dengan TEF tertinggi adalah Muhammad Islah Farid (67 kg, TB
                  170 cm) yang mencapai 293 kkal/hari, dipengaruhi oleh tingginya BMR (1.668

                  kkal/hari) dan massa otot yang lebih besar. Sebaliknya, TEF terendah diperoleh oleh
                  Narendra Dinesh Pratama (47 kg, TB 160 cm) sebesar 244 kkal/hari, sejalan dengan

                  BMR terendah (1.405 kkal/hari), menunjukkan kebutuhan energi dasar tubuh yang
                  lebih kecil.

                        Penelitian  ini  sejalan  dengan  penelitian  terdahulu  pada  Rizal,  Gifari,  dan

                  Arini  (2024)  dalam  Jurnal  Amerta  Nutrition  dengan  judul  “Perbedaan  basal
                  metabolic rate berdasarkan pengukuran dan formula pada atlet bola basket remaja

                  putri  Indonesia”,  menyatakan  bahwa  TEF  berhubungan  erat  dengan  BMR  dan
                  komposisi tubuh, di mana atlet dengan massa otot lebih besar memiliki TEF lebih

                  tinggi.
                        Suryani dan Putra (2021) dalan Jurnal Gizi dan Kesehatan Olahraga dengan

                  judul “ Hubungan komposisi tubuh dan pengeluaran energi basal pada atlet futsal

                  remaja di Bali”, menemukan bahwa pada atlet futsal remaja, TEF berkorelasi positif
                  dengan  berat  badan  dan  BMR,  sehingga  atlet  dengan  BMR  lebih  tinggi

                  menunjukkan  TEF  yang  lebih  besar.  Nugroho  (2020)  dalam  jurnal  ilmu

                  keolahragaan dengan judul “Kebutuhan energi dan komposisi tubuh atlet remaja
                  sepak bola di Yogyakarta”,





                                                                                               30
   442   443   444   445   446   447   448   449   450   451   452