Page 477 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 477
b. Kesehatan Fisik dalam Perspektif Syariah Islam
Syariah Islam tidak hanya mengatur aspek ibadah ritual, tetapi juga
menekankan pentingnya pemeliharaan kesehatan sebagai amanah dari Allah SWT.
Tubuh manusia adalah amanah yang harus dijaga, karena dari kesehatan tubuh lahir
kekuatan untuk beribadah, beramal, serta menjalankan fungsi kekhalifahan di muka
bumi. Hal ini selaras dengan prinsip maqāṣid al-syarī‘ah, khususnya dalam aspek
ḥifẓ al-nafs (menjaga jiwa) dan ḥifẓ al-badan (menjaga tubuh).
Firman Allah SWT QS. Al-Baqarah: 195
ُ
َ
ْ
ِةَكلْهَّتلا ىَلإ ْمُكيِدْيأب اوُقلُت َ لَو
ِ
َ
ِ
Artinya:
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”
Ayat ini menjadi dasar teologis bahwa menjaga kesehatan dan menghindari
kebiasaan yang membahayakan tubuh adalah kewajiban syar‘i. Selain itu, Hadis
Rasulullah SAW menegaskan:
فيعضلا نمؤملا نم الله ىلإ بحأو ريخ يوقلا نمؤملا
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang
lemah.” (HR. Muslim).
Kata “kuat” dalam hadis ini dipahami secara komprehensif: meliputi
kekuatan iman, akhlak, dan fisik. Dengan tubuh yang sehat dan kuat, seorang
Muslim mampu menjalankan ibadah secara optimal, termasuk melaksanakan salat
dengan khusyuk, berpuasa dengan baik, serta berpartisipasi aktif dalam jihad dan
aktivitas sosial.
Dalam perspektif fiqh, menjaga kesehatan jasmani bahkan termasuk dalam
maqṣūd ‘ām (tujuan umum) dari syariat. Ulama seperti al-Syāṭibī dalam al-
Muwāfaqāt menegaskan bahwa segala ketentuan hukum dalam Islam pada
hakikatnya bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan manusia, termasuk dalam
dimensi kesehatan fisik.
Salat sebagai ibadah utama bukan hanya manifestasi ketaatan spiritual, tetapi
juga mengandung hikmah fisiologis. Gerakan-gerakan salat yang teratur dapat
7

