Page 481 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 481
ْ
ُ ْ
َ
ُبولُقلا ُْنِئمطَت ِ َّ اللّ رْكِذب َ لَأ
َ
ِ
ِ
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan batin (mental well-being) sangat
erat kaitannya dengan spiritualitas dan hubungan seorang hamba dengan Allah.
Dengan demikian, kesehatan mental dalam Islam bukan sekadar terbebas dari stres
atau gangguan psikis, tetapi juga mencakup kemampuan menjaga ketenangan hati
(ṭuma’nīnah), kesabaran (ṣabr), dan keikhlasan (ikhlāṣ).
Rasulullah SAW juga bersabda:
َ
َ
ْ
َّ
رْيَخ هلُك ُهرْمأ َّنإ نِمْؤُملا رْم ِ لِ اًبَجَع
ُ
َ
ِ
ِ ِ
“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin, sesungguhnya semua urusannya
adalah kebaikan. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik
baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR.
Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa ketahanan mental seorang mukmin terletak
pada sikap syukur ketika mendapatkan nikmat dan sikap sabar ketika menghadapi
musibah. Dengan demikian, stabilitas mental seorang Muslim berakar pada iman
dan sikap spiritual yang benar.
Dalam tradisi fiqh dan tasawuf, kesehatan mental juga dipahami sebagai
tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Proses ini melibatkan latihan spiritual seperti
salat, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan doa, yang semuanya terbukti memberikan
efek positif terhadap kesehatan mental. Penelitian kontemporer menunjukkan
bahwa praktik keagamaan dapat mengurangi kecemasan, depresi, dan stres,
sekaligus meningkatkan kebahagiaan serta kualitas hidup (Aziz, 2021).
Dengan demikian, dalam perspektif syariah Islam, kesehatan mental tidak
hanya bermakna bebas dari gangguan psikis, tetapi juga mencakup kekuatan iman,
ketenangan hati, serta kemampuan menghadapi ujian hidup dengan sabar dan
syukur. Hal ini menjadi dasar teoretis bahwa salat, selain berdampak pada kesehatan
fisik, juga memiliki peran fundamental dalam menjaga dan meningkatkan
kesehatan mental seorang Muslim.
11

