Page 478 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 478
dianggap sebagai bentuk riyāḍah jasadiyyah (latihan fisik) yang mendukung
kebugaran tubuh. Dengan demikian, pelaksanaan salat secara konsisten adalah
realisasi nyata dari prinsip syariah dalam menjaga kesehatan.
4. Kesehatan Fisik dalam Prespektif Ilmu Kesehatan
Dalam ilmu kesehatan, kesehatan mental dipahami sebagai kondisi
kesejahteraan psikologis di mana individu mampu menyadari potensi dirinya,
mengatasi tekanan hidup secara wajar, bekerja secara produktif, dan memberikan
kontribusi positif bagi lingkungannya (WHO, 2020). Kesehatan mental tidak hanya
diartikan sebagai ketiadaan penyakit jiwa, tetapi mencakup keseimbangan
emosional, psikologis, dan sosial yang memengaruhi kualitas hidup seseorang.
1) Teori Kesehatan Mental Positif
Marie Jahoda (1958) mengemukakan konsep positive mental health yang
menekankan enam indikator utama: sikap positif terhadap diri sendiri,
pertumbuhan dan perkembangan diri, integrasi psikologis, otonomi, persepsi
realitas yang akurat, dan kompetensi dalam menguasai lingkungan. Teori ini
menjadi dasar dalam memahami kesehatan mental bukan sekadar ketiadaan
gangguan, tetapi adanya kondisi positif yang berkembang dalam diri individu.
2) Teori Hierarki Kebutuhan Maslow
Abraham Maslow menjelaskan bahwa kesehatan mental erat kaitannya dengan
terpenuhinya kebutuhan manusia, mulai dari kebutuhan fisiologis, rasa aman,
cinta dan memiliki, penghargaan, hingga aktualisasi diri. Gangguan dalam
pemenuhan kebutuhan ini dapat memengaruhi kondisi psikologis dan
memunculkan stres maupun depresi.
3) Teori Stress dan Koping (Lazarus & Folkman, 1984)
Kesehatan mental juga ditinjau dari kemampuan individu menghadapi stres.
Teori ini menekankan bahwa stres adalah hasil interaksi antara individu dan
lingkungannya, sedangkan kesehatan mental ditentukan oleh sejauh mana
individu mampu melakukan mekanisme koping (coping mechanism) baik
secara emosional, kognitif, maupun perilaku.
8

