Page 482 - Jurnal Penelitian MTsN 6 Jakarta
P. 482
5. Masyarakat Perkotaan
Masyarakat perkotaan adalah kelompok sosial yang hidup di wilayah dengan
tingkat kepadatan penduduk tinggi, infrastruktur modern, serta didominasi oleh
aktivitas ekonomi non-agraris seperti perdagangan, industri, jasa, dan teknologi.
Menurut Soerjono Soekanto (2009), masyarakat perkotaan ditandai oleh adanya
pembagian kerja yang kompleks, heterogenitas sosial, serta mobilitas yang tinggi.
Sementara itu, Louis Wirth (1938) mendefinisikan masyarakat perkotaan sebagai
bentuk kehidupan sosial yang bercirikan kepadatan, heterogenitas, dan
individualisme.
a. Kajian Teori
1) Teori Urbanisasi (Lewis Mumford, 1961)
Menjelaskan bahwa perkembangan kota terjadi karena kebutuhan
manusia untuk berinteraksi, bekerja sama, dan membangun sistem sosial
yang lebih kompleks dibandingkan desa.
2) Teori Ekologi Perkotaan (Park & Burgess, 1925)
Menguraikan bahwa kota berkembang secara melingkar (concentric zone
theory), di mana pusat kota biasanya menjadi pusat bisnis dan
administrasi, sedangkan pinggiran kota berkembang untuk perumahan
dan industri.
3) Teori Modernisasi
Masyarakat perkotaan dianggap sebagai representasi modernitas dengan
pola hidup rasional, mobilitas tinggi, dan keterikatan kuat pada
perkembangan teknologi.
4) Ciri-Ciri Masyarakat Perkotaan (Soerjono Soekanto, 2009)
a) Kehidupan lebih individualistis dibandingkan masyarakat desa.
b) Hubungan sosial bersifat sekunder (lebih formal dan fungsional).
c) Tingkat mobilitas sosial tinggi.
d) Masyarakat heterogen, baik dari segi pekerjaan, budaya, maupun
status sosial.
e) Gaya hidup dipengaruhi oleh teknologi dan modernisasi.
12

