Page 25 - USHUL FIKIH_INDONESIA_MAPK_KELAS XII_KSKK
P. 25
dapat dilakukan melalui suatu tuntutan oleh pihak yang berhak dan dapat dibebaskan
melalui pihak hamba yang berhak pula. Hal ini sesuai dengan firman Allah surat al-Isra’
(17): 33: dan firman Allah dalam surat al-Baqarah(2): 178:
َّ
ْ ُ
َ
َّ
ُ
ُ
َ َ لََفَانطلُسَۦ ِهّيِلوِلَاَنلعَجَدَقَفَامولظمَ َلِتقَنموَ َ ّقَحلٱبَلَّإَُ َّ لِلٱَم َّ رَحَيِتلٱَسفَّنلٱَاولُتقَتَ َ لَّو
َ
ِ َ
َ
ِ
َ
َ
ِ
ِ َ
َ
َ
ّ
ِۖ
ُ
َ َ ٣٣ َاروُصنمََناَكَۥهَّنإَ ِلتَقلٱَيِفَفرسُي
ِ
ِ
َ
Artinya, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah
(membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa
dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan
kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam
membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan. QS. al-
Isra’ (17): 33
َ
۟
ْ
َ ْ
َّ
ْ
ْ
ْ
ْ
ُ ْ
َ
َىَثنلْٱ َ وَِدْبعلٱبَدْبعلٱوَ ّ رُحلٱبَ ُْ رُحلٱََِۖىلْتَقلٱَىِفَ ُ صاصِقلٱَمُكْيلَعَ َ بِتُكَاوُنماءََنيِذلٱَاهُْيأَي
ُ
َ
ُ
َ َ
َ
ِ
َ
َ َ ِ
َ ِ
ْ
ٌۢ
َ
َ
ُ ْ
َ
َ
ّ
َ ٌ فيِفْخَتََكِل َ َذََنَسْحإبَِهْيلإٌَء اَدأوَِفو ُ رْعملٱبٌَعاَبِتٱَفٌَءىَشَِهي ِ خأَ ْ نِمَۥُهلَىِفُعَ ْ نمَفََۚىَثنلْٱب
َ
ِ
ِ
ٍ
ِ ِ
َ ِ
ْ
َ
َ
َ
ٌ
َ
َ ١٧٨ َ َ ميِلأٌَباَذَعَۥهلَفََكِلَذََدْعَبَىَدَتْعٱَنمَفََةمْحروَمُكّب َّ رَنِّم
ُ
ِ َ
َ َ َ ْ ِ
ٌ
Artinya, Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash
berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang
merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa
yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan)
mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar
(diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian
itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa
yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. QS
al-Baqarah(2): 178
Selanjutnya, setiap perbuatan sebagai objek hukum selalu terkait dengan pelaku
perbuatan yang dibebani taklif tersebut. Dalam hal ini muncul persoalan: dapatkah
perbuatan itu dilaksanakan oleh orang lain yang dikenai tuntutan? Dengan kata lain,
apakah pelaksanaan hukum itu dapat digantikan orang lain? Hal ini menjadi pembicaran
di kalangan ulama ushul. Dapat tidaknya taklif itu dilakukan orang lain berhubungan erat
dengan kaitan taklif dengan objek hukum. Dalam hal ini objekhukum terbagi tiga: (1)
Objek hukum yang pelaksananya mengenai diri pribadi yang dikenai taklif; umpamanya
shalat dan puasa; (2)Objek hukum yang pelaksanaannya berkaitan dengan harta benda
pelaku taklif; umpamanya kewajiban zakat; dan (3)Objek hukum yang pelaksanaannya
mengenai diri pribadi dan harta dari pelaku taklif; umpamanya kewajiban haji.
Setiap taklif yang berkaitan dengan harta benda, pelaksanaannya dapat di
gantikan oleh orang lain. Dengan demikian, pembayaran zakat dapat dilakukan orang
USHUL FIKIH - KELAS XII 16

