Page 126 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 126

SEMINAR NASIONAL 2017
               Malang 10 April 2017

               memiliki  kelemahan  diantaranya  membutuhkan  bibit  padi  sebanyak  100-125  kg/ha,
               dibutuhkan tambahan agen hayati seperti dekomposer dan biopestisida karena tanaman lebih
               rimbun  dan  membutuhkan  pemeliharaan  yang  intensif  terutama  penanggulangan  hama  dan
               penyakit tanaman.
                      Dalam mendukung penerapan teknologi hazton dibutuhkan teknologi tambahan seperti
               penggunaan varietas unggul baru (VUB). Penanaman padi yang cukup sering dalam jangka
               waktu yang lama dengan menggunakan satu varietas dapat menurunan produktivitas karena
               tidak tahan terhadap serangan penyakit utama. Varietas Ciherang yang cukup diminati oleh
               petani dapat digantikan dengan varietas unggul baru seperti varietas Inpari 22. Varietas Inpari
               memiliki karakteristik yang menyerupai dengan Ciherang dan tahan terhadap hama penyakit
               yang sering menyerang  varietas Ciherang. Salah satu  komponen budidaya padi  yang dapat
               meningkatkan  produktivitas  dan  pendapatan  petani  adalah  dengan  menggunakan  varietas
               unggul baru.
                      Hasil  penelitian  Waluyo  dan  Suparwoto  (2014)  menunjukkan  bahwa  jenis  varietas
               padi yang direspon oleh petani adalah varietas Inpari 6 dan Inpari 22 dengan produktivitas
               padi  masing-masing  mencapai  7,9  ton/ha  dan  7  ton/ha.  Dengan  menggunakan  jarak  tanam
               yang lebar dapat menghasilkan jumlah anakan, jumlah anakan produktif, bobot 1000 butir dan
               hasil produksi lebih tinggi dibandingkan jarak tanam yang sempit (Muliasari, 2009). Menurut
               Sundari  (2016)  bahwa  metode  Hazton  yang  menggunakan  penanaman  sebanyak  20-30
               rumpun  perlubang  tanam,  akan  menjadikan  seluruh  rumpun  tanaman  merupakan  tanaman
               induk. Diharapkan, secara keseluruhan akan menjadi indukan produktif, karena bibit berada di
               posisi tengah dan terjepit sehingga bibit akan cenderung tidak menghasilkan anakan, sehingga
               lebih produktif.
                      Hasil penelitian maupun informasi terkait pengkajian teknologi budidaya hazton pada
               tanaman  padi  khususnya  di  Provinsi  Bengkulu  dengan  ukuran  jarak  tanam  yang  berbeda
               belum banyak ditemukan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengkajian mengenai penerapan
               teknologi  budidaya  hazton  pada  tanaman  padi  dengan  ukuran  jarak  tanam  yang  berbeda
               dengan  pola  tanam  jajar  legowo  2:1.  Tujuan  pengkajian  adalah  memperoleh  ukuran  jarak
               tanam  yang  tepat  dengan  menerapkan  teknologi  budidaya  hazton  sehingga    mampu
               meningkatkan produksi tanaman padi di Kabupaten Bengkulu Utara.


               2.  Tinjauan Pustaka

                      Awal  pengembangan  teknologi  budidaya  hazton  dimulai  pada  penanaman  padi
               menggunakan pot/ember dengan jumlah bibit yang banyak. Areal penanamannya berkembang
               pada lahan dengan skala kecil hingga pada tahun 2014 pertanaman Hazton telah mencapai
               sekitar 800 hektar terutama di Provinsi Kalimantan Barat. Lokasi pertanaman beragam mulai
               dari lahan pasang surut, lahan sawah tadah hujan dan lahan rawa.  Penggunaan bibit  20-30
               batang  per  lubang  tanam  diharapkan  mengurangi  populasi  anakan  sehingga  indukan  bibit
               lebih  produktif  menghasilkan  padi  karena  posisi  ditengah  dan  terjepit.  (Hazairin,  2014).
               Penanaman bibit padi dilakukan dengan umur 25-30 hari setelah semai. Penggunaan bibit tua
               selain  mengurangi  anakan  yang  banyak,  masa  panen  lebih  cepat  sekitar  10-15  hari.
               Penggunaan bibit tua juga cocok untuk daerah endemis hama keong mas dan orong-orong.
                      Penerapan  sistem  budidaya  padi  hazton  memberikan  hasil  produksi  yang  beragam
               pada  daerah  pengembangannya  yaitu  berkisar  antara  4-9  ton/ha.  Beberapa  daerah
               menunjukkan produktivitas yang rendah dan mengalami kegagalan salah satunya disebabkan
               oleh  menyebarnya  penyakit  blast  di  areal  pertanaman  padi.  Namun,  beberapa  wilayah
               pengembangan  lainnya  menunjukkan  produksi  yang  meningkat  sehingga  hingga  saat  ini
               masih  mengadopsi  teknologi  hazton  dalam  sistem  budidayanya.  Penerapan  teknologi
               budidaya  hazton  dapat  disesuaikan  dengan  kondisi  lokasi  penanaman.  Teknologi  hazton


                              “Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia”     115
   121   122   123   124   125   126   127   128   129   130   131