Page 62 - Modul Teknik Pengeringan 2021
P. 62
) \ !) 7
= exp −X3 (26)
) !) 7
Dengan asumsi bahwa laju kehilangan lengas dari sebutir bijian yang
dikelilingi udara pengering sebanding dengan perbandingan antara kadar air
bijian dan kadar air setimbang atau disebut nisbah lengas. M (moisture)
merupakan kadar air bahan, Me (moisture equilibrium) merupakan kadar air
setimbang antara bahan dan udara pengering. Nilai K merupakan konstanta
-1
laju penurunan kandungan air bahan (jam ) dan t merupakan lama
pengeringan (jam). Nilai K merupakan slope (kemiringan) dari grafik.
Pada laju perubahan kadar air konstan dengan analogi yang sama
dengan laju perubahan kadar air menurun, dengan asumsi bahwa laju
kehilangan lengas konstan dari sebutir bijian yang dikelilingi udara pengering
sebanding dengan perbedaan antara kadar air bijian dan kadar air awal.
Kadar air bahan menunjukan banyaknya kandungan air persatuan
bobot bahan. Dalam hal ini terdapat dua metode untuk menentukan kadar air
bahan yaitu berdasarkan basis kering (dry basis) dan berdasarkan basis basah
(wet basis). Dalam penentuan kadar air bahan hasil pertanian biasanya
dilakukan berdasarkan basis basah (wet basis). Dalam perhitungan ini berlaku
rumus sebagai berikut :
6 4
_e = × 100% (27)
.f
6 g
Dengan W a adalah berat air dalam bahan dan W b adalah berat basah
dari bahan, sedangkan MC w.b adalah kadar air basis basah. Untuk menentukan
bobot kering suatu bahan penimbangan dilakukan setelah bobot bahan
tersebut tidak berubah lagi selama pengeringan berlangsung. Untuk
memperoleh kadar air basis kering dapat digunakan rumus sebagai berikut:
) *
_ = (28)
A
! ) *
Dengan M w adalah kadar air basis basah (%bb) dan M d adalah kadar
air basis kering (%db).
Pengukuran kadar air juga dilakukan dengan cara lain yaitu kadar air
suatu bahan biasanya dinyatakan dalam persentase bobot terhadap bahan
56