Page 862 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 862

"Dalam pembahasan tim kerja, kami tanya apa aspirasi akan menjadi rujukan resmi DPR RI,
              jawabannya  'oh  tidak,  hanya  menampung  saran  saja  tidak  ada  kepastian  rujukan  resmi',
              meradang lah kami," jelasnya.

              Kembali, ia menegaskan bahwa permintaan berunding dari Menaker hanya lip service karena
              pihaknya tak menerima undangan untuk berdiskusi. Mirah menilai jika memang niat Menaker
              adalah berunding, sudah seharusnya surat undangan resmi dikirimkan kepada serikat buruh.

              "Kalau dibilang mau diajak berunding, apa ada undangannya? Ada engga buka ruang diskusi
              atau negosiasi lagi? Kan ga ada, artinya hanya ngomong saja, secara resmi organisasi beralamat
              jelas catatannya tidak ada kami diundang," kata dia.

              Namun,  ia  tak  menutup  kemungkinan  untuk  kembali  berdiskusi  dengan  pemerintah  dengan
              catatan, kali ini pemerintah harus bersungguh-sungguh mendengarkan aspirasi kaum buruh dan
              menjadikannya sebagai bagian dari uu.

              "Tergantung,  kami  paralel  saja,  UU  membolehkan  (unjuk  rasa),  kalau  pun  di  situasi  sudah
              kadung untuk menyuarakan tanggal 6-8 Oktober nanti (aksi mogok), tapi di tengah-tengah ada
              undangan, ya kenapa tidak?" tutupnya.

              Sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziah menulis surat terbuka kepada serikat buruh
              dan  pekerja  yang  masih  menolak  pengesahan  Rancangan  Undang-Undang  Omnibus  Law
              Ciptaker.

              Dalam surat tersebut ia mengatakan pemerintah berusaha mencari titik keseimbangan antara
              melindungi yang telah bekerja dan memberi kesempatan kerja pada jutaan orang yang masih
              menganggur, yang menurutnya tak punya penghasilan dan kebanggaan.

              Selain itu, Ida memaparkan sejak awal 2020 pemerintah juga telah mencoba berdialog tentang
              RUU Cipta Kerja, baik secara formal melalui lembaga tripartit, maupun secara informal.

              (wel/agt).





































                                                           861
   857   858   859   860   861   862   863   864   865   866   867