Page 864 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 864

Setidaknya ada beberapa alasan, diantarnya pertama, kemudahan berinvestasi diterjemahkan
              oleh pemerintah sebagai "tutup mata dan telinga" terhadap praktik-praktik investasi kotor.
              "Pemerintah  seperti  mempersilakan  investasi  apa  saja  masuk  tanpa  ada  ijin  Amdal  dan  lain
              sebagainya," kata Huda saat dihubungi di Jakarta, Selasa (6/10/2020). (  )  Kedua, keuntungan
              dalam  hal  perpajakan  bagi  pengusaha  sangat  luas,  seperti  penguatan  penurunan  tarif  PPh
              Badan, dan kemudahan pemberian relaksasi pajak walaupun relaksasi yang ada saat ini tidak
              efektif.

              Ketiga, pemberian maksimal pesangon bagi pekerja yang terkena PHK dikurangi dari 32 kali upah
              menjadi maksimal 25 gaji yang berasal dari 19 dari pengusaha, 6 dari pemerintah. "Ini sangat
              menekan kehidupan para buruh. Penghasilan pasca mereka PHK akan menjadi lebih sedikit,"
              cetus dia.

              Keempat, ada kondisi yang bisa membuat perusahaan tidak memberikan pesangon sama sekali
              bagi pekerja yang terkena PHK. Serta kelima, dihapusnya inflasi dan kebutuhan tenaga kerja
              dalam penyusunan upah minimum. Serta ditiadakan upah minium Kabupaten/Kota. (  )  "Padahal
              setiap kota berbeda-beda biaya hidupnya," imbuh Huda. Keenam, pekerja asing bebas masuk
              ke Indonesia dan menempati posisi yang sebelumnya hanya diperuntukan bagi WNI. Selain itu,
              ada kondisi pekerja asing yang bebes dari perpajakan.

              "Sebetulnya lebih banyak lagi beberapa alasan kenapa kita harus menolak UU Cipta Kerja ini.
              Yang jelas UU Cipta Kerja menguntungkan Pengusaha, Penguasa, dan Pencari Rente," sebut dia.
              (ind).















































                                                           863
   859   860   861   862   863   864   865   866   867   868   869