Page 154 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 MEI 2020
P. 154

Title          KEMENAKER DAN BP2MI DIMINTA USUT KASUS ABK DI KAPAL TIONGKOK
               Media Name     mediaindonesia.com
               Pub. Date      07 Mei 2020
                              https://mediaindonesia.com/read/detail/310981-kemenaker-dan-bp2mi-dimi nta-usut-
               Page/URL
                              kasus-abk-di-kapal-tiongkok
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Positive










               BELAKANGAN ini di media sosial dan media massa beredar video yang
               menggambarkan penderitaan para pekerja migran Indonesia yang bekerja sebagai
               ABK (Anak Buah Kapal) di kapal pencari ikan Long Xin 605, Long Xin 629 dan Tian
               Yu 8 (semua berbendera Republik Rakyat Tiongkok) yang beroperasi berpindah-
               pindah tempat melintas negara.

               Apa yang dialami oleh para ABK Indonesia tersebut adalah bentuk dari pelanggaran
               hak asasi manusia di mana mereka terenggut kebebasannya, bekerja dalam kondisi
               tidak layak, tidak mendapatkan hak atas informasi, hingga hak yang paling dasar
               yaitu hak atas hidup yang terenggut.

               Kondisi ini makin memperlihatkan kondisi muram pekerja migran Indonesia,
               terutama yang bekerja di sektor kelautan. Sebelumnya, seperti yang kita ketahui,
               ribuan pekerja migran Indonesia yang bekerja sebagai ABK di kapal-kapal pesiar
               juga menjadi korban penularan covid-19, baik tertular penyakitnya maupun
               kehilangan pekerjaannya. Menurut catatan Badan Perlindungan Pekerja Migran
               IndonesiaI, sudah lebih dari 6000 ABK mengalami pemutusan hubungan kerja.

               Kerentanan pekerja migran Indonesia di sektor kelautan dan perikanan memang
               bukan hal yang baru. Dalam Global Slavery Index yang dikeluarkan Walk Free tahun
               2014-2016 juga menempatkan pekerja migran di sektor kelautan dan perikanan
               (terutama sebagai ABK di kapal pencari ikan) sebagai praktek perbudakan modern
               yang terburuk.

               "Dalam pemeringkatan ini, terhitung ada ratusan ribu ABK Indonesia di kapal-kapal
               penangkap ikan berada dalam perangkap perbudakan modern. Jika kondisi tersebut
               masih berlangsung sampai sekarang,situasi memang belum berubah dan ini tentu
               sangat menyedihkan," kata Direktur Migrant CARE, Wahyu Susilo dalam keterangan
               resminya, Kamis (7/5). Migrant CARE, kata dia, ikut menginisiasi Global Slavery
               Index yang dikeluarkan Walk Free tersebut.

               Kerentanan para pekerja migran Indonesia di sektor kelautan dan perikanan, kata
               Wahyu, juga dipicu oleh ketiadaan instrumen perlindungan yang memadai sebagai
               payung perlindungan bagi mereka. Meskipun UU No. 18/2017 tentang Pelindungan
               Pekerja Migran Indonesia mengamanatkan adanya aturan khusus mengenai




                                                      Page 153 of 276.
   149   150   151   152   153   154   155   156   157   158   159