Page 46 - Dalam Bingkai Kesabaran
P. 46
mengatur semua untuk kami. Kakak tidak menikmati gajinya
sendiri. Hampir semua kebutuhan keluarga dia yang
memenuhi. Kakak pernah berjanji akan membiayai kuliah
adik-adiknya kalau dia diterima bekerja.
“Kamu harus kuliah.” Begitu mbak Tati bilang kepada
kakakku yang nomor 2. “Apalagi kamu anak laki-laki. Sekolah
yang tinggi mumpung masih ada kesempatan.”
Kakakku yang nomor 2 ini memang pintar. Dia masuk
rangking satu terus waktu di SMA. Wajahnya juga lebih cakep
kalau dibandingkan dengan kakakku laki-laki yang satunya.
Suatu hari ada seorang perempuan datang ke rumah
mencari mas Sartono. Perempuan itu turun dari becak.
Berjalan ke arah rumah. Kupikir mau tanya alamat. Benar
juga. Dan ternyata yang ditanyakan alamat rumahku.
“Benar ini jalan Barito no 8?” Tanyanya
“Ya, benar.” Jawabku. ”Mbak nyari siapa ya?”
“Sartono.”
“Marii...silakan duduk, Mbak.”
Aku kedalam mencari kakakku. Kelihatannya dia terkejut
ketika kuberitahu ada teman yang mencarinya. Perempuan
lagi. Orangnya cantik Anak orang berada. Mas Sartono agak
gugup sebentar. Kemudian dia pun keluar menemuinya. Aku
memperhatikan dari luar halaman rumah. Mereka ngobrol
tidak terlalu lama. Sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu.
Sebentar-sebentar kuperhatikan kakakku yang seringkali
mengusap dahi. Pasti dia keringatan. Aku tersenyum dalam
hati. Kakaku tentulah grogi di depan perempuan itu. Siapa dia
yaa?
40 | Harini