Page 51 - Dalam Bingkai Kesabaran
P. 51

Aku banyak belajar dari Ismi. Ada perbedaan sifat
             diantara kami. Aku lebih condong ke pendiam. Ismi orangnya
             ramah, supel, murah senyum dan baik hati. Kebaikan hatinya
             ini kadang  disalahartikan oleh anak laki-laki. Ismi bersikap
             baik  kepadanya, dikiranya Ismi menaruh hati padanya.
             Padahal sebenarnya  dengan siapa pun Ismi bersikap
             sama...sama baiknya.
                 ****
                 Tahun1986 an  awal pertama di sebarkan ajakan
             berjilbab. Bagi sekolah negeri ini suatu tantangan. Ismi berani
             mengambil  sikap untuk memakai jilbab. Walaupun masih
             dengan aturan bongkar pasang. Kalau di sekolah, dia lepas
             kerudung, nanti pulang dipakai lagi. Aku baru bisa mengikuti
             jejaknya, pakai kerudung setelah ujian SMA selesai.
                 Di rumah aku sempat mendapat tentangan dari ibu. “Kok
             pakai pakaian begitu..mbok ya wes yang biasa saja.”
                 “Lha kenapa to bu? Apa salah to saya..wong malah

             bajunya lebih sopan lebih tertutup auratnya kok?”
                 “Tapi itu kan tidak umum?”
                 “Lha belum banyak orang yang mau ngaji kok bu?  Ibu
             mbok ya ikut pengajian, nanti kan tahu kenapa harus pakai
             kerudung atau jilbab seperti  ini?”  Ucapku dengan tenang.
             Aku berusaha agar tidak membuat ibu marah. Lama-lama ibu
             tidak mengungkit-ungkit caraku berpakaian. Ibu sudah mulai
             ikut pengajian di rumah tetangga. Pelan-pelan ibu kembali ke
             jalan yang  benar.  Belajar shalat lima waktu  dan pengajian
             seminggu sekali.
                 Lulus SMA, Ismi melanjutkan kuliah di  Bandung.
             Sedangkan aku? Entah mengapa, aku tidak tahu. Aku gagal di



                                             Dalam Bingkai Kesabaran | 45
   46   47   48   49   50   51   52   53   54   55   56