Page 52 - Dalam Bingkai Kesabaran
P. 52

Sipenmaru (Seleksi  Penerimaan mahasiswa Baru).  Aku
             merasa malu. Betapa tidak? Sebelumnya aku berharap bisa
             masuk lewat jalur PMDK (Penelusuran Minat  Dan Bakat).
             Kenyataannya aku gagal. Nilai ujianku lumayan bagus. Aku
             mendapat  rangking 3 paralel IPS, bahkan  nilai UN ku
             tertinggi, tapi aku tidak diterima di Perguruan Tinggi.
                 Lututku terasa lemas ketika Sipenmaru diumumkan lewat
             surat kabar. Namaku tidak tertulis  disitu. Artinya aku tidak
             diterima. Aku sudah  memilih jurusan yang  tidak  banyak
             saingannya. Aku pilih  meneruskan ke Diploma 3. Tapi aku
             tidak diterima.
                 Aku sempat jatuh sakit. Ketika  dibawa ke  dokter, aku
             hanya diberi vitamin. Badanku mudah lemas dan keluar
             keringat  dingin. Aku  hanya ingin tidur saja rasanya. Hal ini
             berlangsung kurang lebih satu bulan.
                 Kakakku menyarankan agar aku ambil les atau kursus.
             “Kamu tidak boleh diam diri di rumah terus. Cari kesibukan,

             biar tidak bengong saja.” Aku diam saja. Aku tidak tahu mau
             ikut kursus apa? Aku hanya ingin kerja sebagai guru. Harusnya
             aku dulu sekolah  di  SPG. Kenapa dulu  tidak ada yang
             mengarahkan aku? Ah, lagi-lagi  aku merasa menyesali
             nasibku. Padahal tidak seharusnya aku merasa begitu.
                 “Aku belum tahu akan kursus apa, Mbak.” Jawabku lirih.
             Aku tidak ingin keluar rumah dulu.
                 “Ya wes lah, aku cuma mau nasehati kamu. Yang penting
             kamu nyari kesibukan biar tidak nganggur.”
                 Benar juga  apa yang dibilang kakakku. Aku tidak boleh
             menganggur. Tapi aku belum ingin keluar rumah. Bayangan





             46 | Harini
   47   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57