Page 50 - Dalam Bingkai Kesabaran
P. 50
“Senangnya bisa sekelas lagi denganmu..” mereka pun
ngobrol banyak. Aku hanya sesekali memperhatikannya.
Kelihatannya banyak teman SMP Ismi ada di SMA ini. Pasti
Ismi terkenal di SMPnya. Tak lama kemudian bel berbunyi,
semua menempati kursinya masing-masing. Sambil
menunggu kedatangan guru, Ismi menanyaiku, dari mulai
nama, asal SMP dan alamat rumah.
Sejak pertemuan itu, jalinan persahabatan kami dimulai.
Kami juga memilih jurusan yang sama. Jadi selama tiga tahun
di SMA kami bersahabat. Ismi adalah aktivis sekolah. Dia ikut
pramuka, mapala dan teater. Sejak awal Ismi sudah
mengajakku untuk gabung dalam satu kegiatan dengannya.
Tapi aku tidak berminat, karena rumahku jauh. Kegiatan yang
kuikuti hanya pramuka waktu di kelas satu. Itu pun karena
diwajibkan oleh sekolah. Dan hanya di semester satu aku ikut.
Di semester dua kami sudah penjurusan. Kegiatan ekstra
diikuti hanya sebagai pilihan.
Sebagai aktivis OSIS, Ismi kadang meninggalkan jam
pelajaran. Disinilah peranku sebagai sahabatnya. Catatanku
kubuat sejelas dan serapi mungkin. Apa pun yang
disampaikan guru, tidak ingin kulewatkan untuk menuliskan
di buku. Tujuanku hanya satu, agar nanti jika Ismi
menyalinnya, dia bisa memahami seolah dia menerima
penjelasan ini langsung dari guru. Satu hal yang kusuka, Ismi
tidak pernah fotocopy catatan di bukuku. Ismi tetap menulis
nya. Walaupun catatannya berlembar-lembar, dia tidak malas
menulis. Dibantu menulis pun tidak mau. “Kalau menulis
begini, aku kan sambil belajar,” begitu katanya.
44 | Harini