Page 55 - Dalam Bingkai Kesabaran
P. 55
kubuang keinginanku untuk kuliah. Kupupus cita-citaku untuk
menjadi seorang guru. Mungkin Allah sudah mentakdirkan
padaku. Surat Ismi terakhir menanyakan apakah aku mau
mencoba mendaftar lagi. Aku tidak bisa memberi jawaban.
Hingga pada suatu hari kakakku menanyakan, ”Bagaimana
kalau kamu nyoba tes lagi? Kamu kan masih punya
kesempatan?” Aku tidak langsung menjawab. Di hari lain
Kakakku mengulang lagi pertanyaannya, ”Piye? Nyoba
dak..Nanti kamu menyesal lho kalau dak mau mencoba tes
lagi?”
“ Aku kan tidak ikut bimbel, mbak?” Sahutku.
“Ya gak pa pa. Siapa tahu kali ini kamu bisa diterima.”
Kata-kata kakakku menggugah asa. Aku seperti
mendapat kilauan sinar mentari. Kakakku memberi harapan.
Berarti dia siap membiayai. Itu pun kalau nanti aku jadi
diterima. Toh belum tahu juga nanti hasil akhirnya.
Aku segera menulis surat kepada Ismi. Kuceritakan
niatku untuk ikut tes Sipenmaru tahun ini. Walaupun aku
tidak percaya diri karena aku tidak ikut bimbingan belajar
seperti anak-anak yang lain. Aku ingin mengambil
kesempatan yang masih mungkin untukku. Ismi membalas
suratku lebih cepat dari biasa. Minggu depan Ismi pulang ke
Solo dan aku diminta datang ke rumahnya.
Aku pun datang ke rumah Ismi. Betapa girangnya aku.
Ismi meminjamkan kepadaku soal-soal tes Sipenmaru yang
dikeluarkan oleh sebuah bimbingan belajar yang terkenal di
kotaku.
“Kamu ikut bimbel di sini to dulu, Mi?” Tanyaku sambil
membuka-buka naskah soal yang ada setumpuk di depanku.
Dalam Bingkai Kesabaran | 49