Page 54 - Dalam Bingkai Kesabaran
P. 54
lagi yang kosong. Kakakku menyarankan aku untuk les
menjahit. Aku pun menyetujui.Karena semua kakakkulah
yang membiayai. Kuisi hari-hariku dengan kegiatan les bahasa
Inggris dan menjahit.
Di tempat les aku ketemu teman-teman yang sebaya
denganku. Mereka rata-rata mahasiswa. Ada juga yang
senasib denganku. Orang-orang yang gagal Sipenmaru. Aku
bisa terhibur. Mataku pun terbuka. Bukan hanya aku sendiri
yang mengalami kegagalan ini. Semangat belajarku pun
muncul kembali.
Di tempat les menjahit beda suasana. Aku bertemu ibu-
ibu muda yang mengisi waktu luang mereka. Banyak cerita
kudengar dari mereka. Dari kisah-kisah mereka ketika masih
gadis sampai ke persoalan keluarga. Aku banyak menimba
ilmu dari mereka. Yang pasti aku mulai bisa membuat baju
sendiri. Pernah terpikir olehku untuk menjadi penjahit di
sebuah pabrik konveksi. Cita-cita menjadi guru berubah jadi
satu mimpi.
*****
Selama Ismi kuliah di Bandung kami sering bertukar
kabar lewat surat. Kami seperti sahabat pena. Ismi bercerita
tentang tugas dan aktivitasnya sebagai mahasiswi di Sekolah
Tinggi Kesejahteraan Sosial. Aku kadang mengingatkan Ismi
agar tidak lupa makan. Ismi punya sakit maag. Dulu di SMA
sering kambuh kalau dia terlalu banyak kegiatan OSIS. Kami
bisa saling berbagi masalah. Intinya kami saling
menyemangati.
Tidak terasa setahun berlalu. Tiba saat Sipenmaru tahun
berikutnya. Aku tidak berpikir untuk mengikuti lagi. Sudah
48 | Harini