Page 47 - Dalam Bingkai Kesabaran
P. 47

Tidak lama teman kakakku itu  pulang. Kakak tidak
             mengantarkan sampai  di jalan. Hanya sampai depan  pintu
             rumah.
                 “Siapa dia,  Mas?” Tanyaku ketika  perempuan  cantik itu
             sudah    menghilang     dari   pandangan.    Becak     yang
             ditumpanginya  tadi menunggui  di jalan depan  rumah.
             Maklum rumahku ada  di perkampungan. Rumahnya masuk
             ke  gang. Jadi susah  mencari angkutan. Sudah  benar  ide
             mbaknya tadi menyuruh tukang becak menunggui.
                 “Pacar ya, mas?” Tanyaku menggoda.
                 “Bukan.” Kakakku tersenyum, tapi agak gimana...
                 “hiya mestii..” ucapku lagi. Ku bilang mbak Tati
             lho...suruh kuliah kok malah...”
                 “Hussh...kamu tahu apa?!”  Kakakku agak sewot, aku
             malah jadi penasaran.
                 “Dia dulu teman SMP. SMA  nya  ya sama, cuma beda
             kelas denganku.” Kakakku mulai mau bercerita.

                 “Anak perempuan sampai mau datang ke rumah anak
             laki-laki, jangan-jangan naksir kamu lho, Mas?”
                 Kakakku diam, tidak menanggapi.
                 “Kuliahnya juga sama denganmu ya, Mas?” Aku
             lontarkan  pertanyaan lain. Kakak  hanya menjawab pendek.
             “Satu Kampus, tapi beda jurusan.”
                 Di hari lain Kakak sulungku sempat ku dengar sedikit
             mengomel. Dia sepertinya menasehati  kakak laki-lakiku.
             Entah siapa yang bercerita  tentang perempuan cantik
             bernama  Maria pernah datang ke rumah. Mbak Tati
             menasehati agar kakakku konsentrasi kuliah. Tidak mikir yang
             lain. Aku setuju dengannya. Mas Sartono juga begitu.



                                              Dalam Bingkai Kesabaran | 41
   42   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52