Page 53 - Edelweis Bayan_Neat
P. 53
“Isti’arah yang kosong dari kata-kata yang serasi baik dengan musyabbah bih maupun musy�
abbah. Atau justru kedua jenis kata serasi tersebut secara bersamaan.
1). Isti’arah yang kosong dari mulaim.
Contoh firman Allah ta’ala:
ه ل �لا دهع نوضقُني
“Mereka membuka janji Allah”
Yang dimaksud dengan “membuka” ialah “menyalahi”. Dari terjemah kita bisa melihat bahwa
kategori musta’ar di atas ialah isti’arah musharrahah taba’iyyah. Kemudian, sebagaimana rumusan
terdahulu, karena taba’iyyah disini musharrahah maka maf’ul yang ashliyyah berikutnya ialah qarinah
musharrahah.
Lanjut ke pembahasan mulaim, di sini sini tidak disebutkan kata yang serasi baik dengan mus-
ta’ar lah maupun dengan musta’ar minhu. Dengan demikian isti’arah seperti ini dikategorikan sebagai
isti’arah muthlaqah.
2). Isti’arah yang sempurna mulaimnya
Adapun yang kedua, sebagaimana pada definisi bahwa disebut pula muthlaqah jika jenis kata
serasinya disebutkan secara bersamaan. Bersamaan dalam artian yang satu serasi dengan musta’ar lah,
sedang satu lagi serasi dengan musta’ar minhu. Contoh seperti perkataan Zuhair:
ملقُت مل هرافظأ� دبل هل # فذقُم حَلاسل� يكاش دسأ� ىدل
“Di hadapan singa orang yang menghunus senjata terlempar, Ia memiliki bulu leher yang lebat dan
kuku-kukunya tidak pernah dipotong”
Yang dimaksud dengan singa adalah orang pemberani, kemudian disebutkan kata yang sesuai
dengan muysabbah yaitu فذقُم حَلاسل� يكاش dan kata yang serasi dengan musyabbah bih yaitu
.
ملقُت مل هرافظأ� دبل هل Isti’arah semacam ini juga termasuk Isti’arah Muthlaqah. Baik isti’arah perta-
ma maupun kedua dinamakan muthlaqah (sempurna atau komplit), karena: 1) Ia tidak dibuat ragu
oleh mujarradah atau dikuat-kuatkan lagi oleh murasysyahah. Ia dicukupkan saja oleh tharafain, jami’ dan
qarinah. 2) Ia juga sempurna jika disebutkan keduanya bersamaan, karena mulaim yang disebutkan jadi
seimbang. Tidak hanya salah satunya.
Terlepas dari mana mulaim yang ada, seperti sudah disinggung di atas, bahwa pada bagian ini
mesti kita pastikan bahwa si musta’ar sudah memiliki qarinah. Qarinah sebenarnya baik tak mesti qari�
nah lafdziyyah, ia juga bisa qarinah haliyyah. Terkait dengan hal ini dan janji penulis untuk membahas
lebih rinci tentang personifikasi, depersonifikasi, sinestesia, plus antropomorfisme. Berikut bahasan
secara khususnya:
Qarinah Mani’ah dan Qarinah Daaliyyah
Ringkasnya, qarinah baik yang haliyyah maupun lafdziyyah, tidak selalu mani’ah seperti
Buku Ajar Edelweis Bayan 51